
DENPASAR, BALIPOST.com – Musim hujan 2026/2027 di Bali diprediksi datang lebih lambat dari kondisi normal.
Berdasarkan hasil pemutakhiran data dan analisis iklim terkini Stasiun Klimatologi Bali, seluruh 20 Zona Musim (ZOM) di Bali diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan kondisi normal periode 1991–2020.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, mengatakan awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan berlangsung pada November hingga Desember 2026. Dari 20 ZOM tersebut, hanya tiga ZOM atau 15 persen yang diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November. Sementara 17 ZOM atau 85 persen lainnya baru memasuki musim hujan pada Desember.
“Seluruh wilayah, yaitu 20 zona musim di Bali, diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan,” ujar Aminudin, saat dikonfirmasi, Selasa (29/9).
Kemunduran tersebut cukup signifikan. Pengamat Meteorologi Geofisika Pertama, Trayi Budi Samantu, menyebut 5 persen ZOM diprediksi mundur satu dasarian, 25 persen mundur dua dasarian, dan 70 persen mengalami kemunduran tiga dasarian atau lebih.
Dengan kata lain, sebagian besar wilayah Bali berpotensi mengalami keterlambatan awal musim hujan sekitar satu bulan atau lebih dibandingkan kondisi normal. Bahkan, terdapat wilayah yang diprediksi mengalami kemunduran hingga enam sampai tujuh dasarian.
“Yang paling banyak, 70 persen mundur tiga dasarian atau lebih. Artinya bisa mundur satu bulan atau lebih dari normalnya. Bahkan hampir ada yang mundur sekitar enam hingga tujuh dasarian,” jelas Trayi.
Di tengah prediksi awal musim yang terlambat, masyarakat diminta tidak menganggap musim hujan 2026/2027 sebagai periode yang minim hujan. Sebab, sifat musim hujan secara umum diprakirakan berada pada kategori normal hingga atas normal.
Sebanyak 14 ZOM atau 70 persen diprediksi memiliki sifat musim hujan normal. Sementara enam ZOM atau 30 persen lainnya diperkirakan mengalami sifat musim hujan atas normal.
Wilayah yang berpotensi mengalami sifat hujan atas normal terutama berada di pesisir Bali bagian utara dan timur.
“Walaupun awal musim hujan yang diprediksi mundur, kami mengimbau untuk tetap mewaspadai intensitas hujannya,” kata Aminudin.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian. Musim hujan yang datang terlambat tetap dapat diikuti hujan dengan intensitas tinggi. Ketika kondisi tersebut terjadi, wilayah dengan kerawanan banjir dan longsor perlu meningkatkan kesiapsiagaan.
Stasiun Klimatologi Bali pun meminta informasi prakiraan musim tidak hanya dipahami sebagai penanda kapan hujan akan turun, tetapi menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi oleh pemerintah, masyarakat maupun sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan kondisi cuaca.
Sementara itu, puncak musim hujan di Bali diprediksi terjadi pada Februari 2027. Sebanyak 16 ZOM atau 80 persen diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada bulan tersebut.
Sebanyak satu ZOM atau 5 persen diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027. Sedangkan tiga ZOM atau 15 persen lainnya diperkirakan mencapai puncak pada Maret 2027.
Trayi mengatakan puncak musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Bali. Kendati demikian, Februari menjadi periode dengan cakupan wilayah terbesar.
Durasi musim hujan juga diprediksi lebih pendek. Sebanyak 18 ZOM atau 90 persen diperkirakan memiliki durasi musim hujan lebih pendek dibandingkan kondisi normal. Hanya dua ZOM atau 10 persen yang diprediksi memiliki durasi sama dengan normal.
“Karena awal musimnya saja mundur dari normal, maka panjang musimnya nanti juga diprediksi lebih pendek dari normalnya,” terang Trayi.
Untuk November 2026, awal musim hujan diprediksi terjadi pada akhir bulan atau dasarian III dan hanya mencakup tiga ZOM atau 15 persen wilayah Bali.
Wilayah yang masuk dalam kelompok ini antara lain Banjar, Sukasada, Baturiti, Pupuan, Petang, dan Payangan.
Sementara itu, 17 ZOM lainnya diprediksi baru memasuki musim hujan sepanjang Desember 2026. Waktunya tersebar mulai dasarian I, II hingga III.
Wilayah yang masuk dalam cakupan tersebut antara lain Melaya, Negara, Jembrana, Mendoyo, Pekutatan, Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, Kubu, Selemadeg Barat, Penebel, Selemadeg, Selemadeg Timur, Kerambitan, Tabanan, Marga, Kediri, Abiansemal, Mengwi, Kuta Utara, Kuta, Kuta Selatan, Denpasar, Gianyar, Tampaksiring, Sukawati, Blahbatuh, Tegallalang, Ubud, Bangli, Kintamani, Susut, Tembuku, Banjarangkan, Klungkung, Dawan, Nusa Penida, Karangasem, Abang, Rendang, Sidemen, Bebandem, Selat dan Manggis.
Menghadapi pola musim tersebut, Stasiun Klimatologi Bali telah menyiapkan rekomendasi lintas sektor. Pada sektor pangan, petani diminta menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tanaman berumur pendek serta meningkatkan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Untuk sektor sumber daya air, masyarakat didorong memanfaatkan air hujan dan menambah kapasitas tampungan air di tingkat rumah tangga. Identifikasi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor juga diperlukan, disertai pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan.
Kesiapan infrastruktur juga menjadi perhatian. Pemerintah dan masyarakat diminta melakukan pembersihan drainase serta normalisasi sungai sebelum curah hujan meningkat. Fasilitas penampung air perlu diperiksa dan diperbaiki.
Di daerah rawan longsor, penguatan tebing menjadi salah satu langkah antisipasi. Perbaikan jalan, pembersihan gorong-gorong, pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang serta pengamanan kabel utilitas juga perlu dilakukan.
Pada sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan larvasidasi perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi berkembangnya nyamuk setelah muncul genangan. Fasilitas kesehatan juga diminta bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) maupun penyakit yang berkaitan dengan genangan dan banjir.
Di sisi lain, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya berakhir. Masyarakat tetap diminta waspada, terutama selama September hingga Oktober, mengingat awal musim hujan masih diprediksi mengalami kemunduran.
Aminudin menegaskan, perkembangan kondisi iklim perlu terus dipantau karena prediksi musim merupakan informasi yang dapat diperbarui mengikuti perkembangan atmosfer dan dinamika iklim.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi musim kemarau maupun prediksi musim hujan melalui kanal resmi BMKG Stasiun Klimatologi Bali,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)










