
DENPASAR, BALIPOST.com – Banyaknya hotel dan akomodasi pariwisata di Bali yang dijual di sejumlah platform properti tidak serta-merta mencerminkan kondisi industri pariwisata Pulau Dewata yang sedang mengalami kelesuan. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai fenomena tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika bisnis dan mekanisme pasar.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar), Ni Luh Puspa mengatakan, keputusan pemilik properti untuk menjual hotel atau mengubah kepemilikan merupakan bagian dari dinamika internal bisnis. Karena itu, fenomena tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan kondisi pariwisata Bali secara keseluruhan.
“Kalau kita melihat dinamika bisnis hotel di Bali, tentu perlu dilihat secara proporsional. Bisnis hotel adalah bagian dari industri yang berjalan mengikuti mekanisme pasar. Jadi, perubahan kepemilikan atau keputusan menjual sebuah properti tidak serta-merta menggambarkan kondisi pariwisata Bali secara keseluruhan,” ujar Ni Luh Puspa, Selasa (22/9).
Menurutnya, kondisi permintaan pariwisata Bali tetap perlu dilihat melalui berbagai indikator, termasuk perkembangan kunjungan wisatawan dan tingkat hunian akomodasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada Juli 2026 mencapai 697.809 kunjungan.
Angka tersebut meningkat 15,34 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 605.013 kunjungan. Namun, secara tahunan, jumlah wisman Juli 2026 relatif stabil, yakni hanya naik 0,10 persen dibandingkan Juli 2025 yang tercatat 697.107 kunjungan.
Dari sisi akomodasi, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Bali pada Juli 2026 mencapai 67,29 persen. Angka ini naik 2,42 poin persentase dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 64,87 persen. Kendati demikian, jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang mencapai 67,75 persen, TPK hotel berbintang Juli 2026 turun tipis 0,46 poin persentase.
Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya pada Juli 2026 tercatat 42,53 persen, meningkat 3,62 poin persentase dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 38,92 persen.
Ni Luh Puspa mengatakan, pertumbuhan wisatawan tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat permintaan terhadap setiap hotel. Hal ini karena pola perjalanan dan pilihan akomodasi wisatawan semakin beragam.
“Yang terjadi sekarang adalah pasar pariwisata semakin dinamis. Pilihan wisatawan terhadap akomodasi juga semakin beragam, mulai dari hotel berbintang, resort, villa, hingga berbagai bentuk akomodasi lainnya. Karena itu, pertumbuhan jumlah wisatawan tidak selalu secara otomatis berarti seluruh properti hotel akan mengalami tingkat permintaan yang sama,” jelasnya.
Karena itu, Kemenpar mendorong pelaku industri perhotelan di Bali melakukan adaptasi terhadap perubahan perilaku dan preferensi wisatawan. Inovasi produk, peningkatan kualitas pelayanan, serta pengembangan segmen pasar dinilai menjadi bagian penting untuk mempertahankan daya saing.
Menurut Ni Luh Puspa, peluang pasar tidak hanya berasal dari wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan nusantara. Selain pasar leisure, pelaku usaha dapat mengembangkan segmen wellness, MICE, hingga wisata berbasis pengalaman.
“Di sinilah pentingnya adaptasi dari industri. Seperti di industri lain, seiring perkembangan zaman hotel perlu terus berinovasi, memperkuat kualitas produk dan layanan, serta menyasar segmen pasar yang lebih beragam,” katanya.
Dari sisi pemerintah, Kemenpar menyatakan akan terus mendorong permintaan pariwisata Bali melalui promosi yang lebih tepat sasaran, pembenahan konektivitas, pembukaan akses pasar baru, serta peningkatan kualitas pengalaman wisatawan.
Dia menekankan, tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat yang lebih luas. Pemerintah dan industri didorong untuk bersama-sama meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan serta memperluas penerima manfaat dari aktivitas pariwisata.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bali I Wayan Sumarajaya mengatakan, perkembangan kunjungan wisatawan ke Bali sejauh ini masih berlangsung normal.
“Kita melihat kunjungan wisatawan normal saja. Masalah jual beli akomodasi sudah dijelaskan Pak Gubernur,” ujar Sumarajaya.
Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster juga meminta fenomena jual beli hotel dilihat secara proporsional dan tidak langsung dikaitkan dengan kondisi pariwisata Bali secara keseluruhan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya persoalan dalam industri pariwisata Bali.
Koster mengatakan, aktivitas pariwisata Bali hingga saat ini masih berjalan normal. Ia menyebut kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) berada pada kisaran 20.000 hingga 24.000 orang per hari, sedangkan wisatawan domestik sekitar 12.000 hingga 14.000 orang per hari.
Menurut Koster, fenomena penjualan vila maupun hotel lebih tepat dilihat dari sisi entitas bisnis masing-masing. Ia menilai keputusan menjual atau menutup usaha akomodasi tidak selalu berkaitan langsung dengan kondisi kunjungan wisatawan ke Bali.
Ia menjelaskan, sebuah perusahaan bisa saja memiliki berbagai lini usaha di sejumlah daerah, bahkan di luar Bali. Ketika terjadi perubahan kondisi bisnis secara keseluruhan, perusahaan dapat mengambil keputusan untuk mengalihkan investasi maupun menutup salah satu unit usahanya.
Koster juga membantah anggapan bahwa banyaknya akomodasi yang dijual disebabkan tingkat hunian hotel di Bali yang secara umum sedang bermasalah. (Ketut Winata/balipost)










