Perbaikan dermaga pelabuhan lintas Jawa-Bali yang dilakukan sejak Agustus lalu. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) saat ini melakukan penguatan infrastruktur Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk dan Dermaga Ponton Ketapang untuk meningkatkan keandalan layanan penyeberangan Jawa–Bali. Proyek revitalisasi yang berjalan sejak 21 Agustus 2026 ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas Dermaga 2 Gilimanuk dari 30 ton menjadi 50 ton, selaras dengan pengubahan dermaga ponton Ketapang menjadi Moveable Bridge (MB) permanen 50 ton yang ditargetkan rampung selambatnya menjelang Lebaran 2027.

Pekerjaan fisik tersebut berdampak pada penurunan kapasitas efektif pelabuhan saat arus kendaraan yang hingga pertengahan September ini masih melonjak.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, mengatakan perbaikan ini merupakan investasi jangka panjang untuk memangkas ketergantungan pada titik layanan tertentu dan mempercepat bongkar-muat logistik. Namun selama pengerjaan berlangsung, ASDP bersama regulator dan kepolisian langsung menerapkan skema operasional terpadu guna mencegah penumpukan kendaraan di jalan akses pelabuhan.

Menurutnya, penanganan kepadatan di Ketapang-Gilimanuk perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan kapasitas efektif yang tersedia.

“Kepadatan di Ketapang-Gilimanuk tidak dapat dilihat hanya dari sisi jumlah kendaraan maupun kapal. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi kapasitas efektif layanan, khususnya untuk kendaraan logistik. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari stabilisasi operasional hingga penguatan kapasitas infrastruktur dan fasilitas pendukung,” ujar Heru.

Baca juga:  Desa Adat Ringdikit Kelola Sistem Pertanian Berkelanjutan

Dalam diskusi dengan forum Wartawan Perhubungan di Jakarta, Jumat (11/9) lalu, ASDP memaparkan kondisi aktual Lintas Ketapang-Gilimanuk serta berbagai faktor yang memengaruhi ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas layanan. Pembahasan secara khusus menyoroti tekanan pada pelayanan kendaraan logistik yang menjadi salah satu volume dominan pada periode kepadatan.

Berdasarkan data periode 30 Agustus–5 September 2026, tercatat sebanyak 43.327 kendaraan melintas di Lintas Ketapang-Gilimanuk, meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, sebanyak 176 kapal beroperasi dengan 1.210 trip, masing-masing mengalami penurunan 11% dan 21% secara tahunan.

Dalam situasi tersebut, terdapat juga faktor lainnya yang memperbesar ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh menurunnya kapasitas lintasan alternatif, terbatasnya fleksibilitas kendaraan logistik, belum dapat digunakannya Dermaga Bulusan, serta keterbatasan kapasitas dermaga yang saat ini masih dalam tahap peningkatan.

Baca juga:  Menko PMK Sebut Syarat Pelaku Perjalanan Udara Jawa-Bali akan Diubah Lagi

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale mengatakan saat ini perusahaan terus menyiapkan langkah untuk meningkatkan pelayanan sekaligus memperkuat kesiapan lintasan menghadapi peningkatan mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik, terutama pada periode Nataru 2026/2027.

“Yang kami lakukan bukan hanya mengurai antrean ketika kepadatan terjadi, tetapi juga menyiapkan solusi yang lebih fundamental agar lintasan memiliki kapasitas dan fleksibilitas yang semakin baik dalam menghadapi pertumbuhan permintaan ke depan,” jelas Windy.

Untuk jangka pendek, ASDP menyiapkan langkah stabilisasi melalui pengendalian arus dan penguatan kapasitas di Lintas Ketapang-Gilimanuk. Sementara dalam jangka menengah dan panjang, penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas dermaga, berkoordinasi untuk pengembangan buffer area, penyiapan akses pendukung, serta penambahan armada untuk mendukung operasi di Lintas Ketapang-Gilimanuk dan Tanjung Wangi–Lembar melalui operasional kapal perbantuan.

Dari sisi infrastruktur, ASDP menargetkan peningkatan kapasitas Dermaga II Gilimanuk dan Dermaga V Ketapang dari dermaga ponton menjadi Dermaga MB ditargetkan dapat dioperasikan selambatnya pada periode Angkutan Lebaran 2027.

Baca juga:  Di PHK Tanpa Alasan, Karyawan 'Ngerudug' Perusahaan Air Minum Kemasan

Dalam diskusi juga dibahas pentingnya dukungan digitalisasi dan keselarasan data dalam mendukung kelancaran proses pelayanan. Salah satunya melalui penguatan kerja sama antara sistem Ferizy dan Inaportnet, khususnya terkait data manifest, sehingga informasi yang digunakan dalam proses pelayanan dapat semakin selaras.

Triono menjelaskan bahwa integrasi data manifest antara Ferizy dan Inaportnet diharapkan dapat berjalan dengan baik sehingga meminimalisasi perbedaan data antarsistem.

“Kami berharap kerja sama antara Ferizy dan Inaportnet, khususnya terkait data manifest, dapat terjalin dengan baik. Dengan adanya integrasi dan keselarasan data, diharapkan dapat meminimalisasi perbedaan data manifest sehingga informasi yang digunakan dalam proses pelayanan dapat lebih akurat dan konsisten,” ujar Triono.

Dengan berbagai langkah tersebut, ASDP berupaya memperkuat Lintas Ketapang-Gilimanuk sebagai salah satu jalur strategis konektivitas Jawa-Bali, sekaligus memastikan kesiapan layanan dalam menghadapi peningkatan mobilitas masyarakat dan logistik, termasuk pada periode Nataru 2026/2027 mendatang. (Surya Dharma/balipost)

 

BAGIKAN