Anggota DPD RI, IB Rai Dharmawijaya Mantra menyapa pelayat almarhumah IGA Badri di rumah duka di Denpasar, Selasa (8/9). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Berpulangnya I Gusti Ayu Badri, istri dari mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra menyisakan duka dan banyak kenangan bagi keluarga. Putranya yang merupakan anggota DPD RI asal Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, mengenang sosok ibundanya sebagai seorang pendidik yang mengawali perjalanan kariernya sebagai guru. I Gusti Ayu Badri disebut menjadi guru pertama di SMP Negeri 1 Denpasar.

Ditemui di rumah duka, Jumat (11/9), Rai Mantra mengatakan, profesi sebagai guru menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mendiang. Sebelum melanjutkan pendidikan dan mengikuti perjalanan suaminya, I Gusti Ayu Badri sempat mengabdikan diri sebagai guru di SMP Negeri 1 Denpasar. “Memang karier beliau itu dilalui dari seorang guru. Jadi guru pertama di SMP 1,” kata Rai Mantra.

Baca juga:  Presiden Diminta Pertahankan Tunjangan Profesi Guru dan Dosen

Menurut Rai Mantra, selama menjadi guru, I Gusti Ayu Badri memiliki banyak murid. Beberapa di antaranya kemudian dikenal sebagai tokoh dan pejabat di Bali. Salah satu yang dikenangnya adalah mantan Bupati Badung, almarhum I Wayan Dhana. Kemudian mantan pengelola Tanah Lot, almarhum I Gusti Gede Aryadi, dan lainnya.

Menurut Rai Mantra, pesan terakhir sang ibu juga mengingatkannya pada sosok seorang guru meski profesinya di dunia pendidikan hanya berlangsung singkat. Setelah menikah, I Gusti Ayu Badri memutuskan mengikuti sang suami yang melanjutkan pendidikan doktoral di India.

Setelah kembali ke Indonesia, suaminya kemudian menjadi dosen di Universitas Indonesia dan selanjutnya melanjutkan pengabdian di Universitas Udayana. “Jadi kariernya mengikuti suami,” ujarnya.

Baca juga:  Sambut Hari Guru, Service Motor di AHASS Diskon hingga 50 Persen

Rai Mantra juga menceritakan awal pertemuan kedua orangtuanya yang berkaitan dengan kawasan sekitar SMP Negeri 1 Denpasar. Saat itu, keluarga I Gusti Ayu Badri memiliki rumah di Jalan Kaliasem, dekat SMP Negeri 1 Denpasar. Rumah tersebut juga digunakan sebagai tempat kos karena kawasan itu merupakan pusat kota pada masa tersebut.

Di tempat itulah, menurut Rai Mantra, ayahnya kemudian tinggal sebagai anak kos hingga akhirnya terjadi pertemuan dengan ibundanya. Rai Mantra mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas ayahnya ketika tinggal di kawasan tersebut. Namun, ia menyebut kawasan itu dahulu merupakan pusat kota.

Mengenai latar belakang pendidikan ibundanya, Rai Mantra menyampaikan, I Gusti Ayu Badri menempuh pendidikan keguruan pada masa itu. Ia menyebut pendidikan tersebut sebagai SGB.

Baca juga:  COVID-19 Timbulkan Kemiskinan Baru, Saatnya Garap Pertanian

Bagi Rai Mantra, perjalanan hidup ibundanya sebagai seorang guru merupakan bagian yang ingin terus dikenang. Ia menilai karakter sebagai seorang pendidik juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak-anaknya.

Rai Mantra juga mengaitkan perjalanan hidup ibundanya dengan hari kelahiran dan hari terakhirnya. I Gusti Ayu Badri lahir di Tumpek Krulut dan meninggal di Tumpek Kandang. Bagi Rai Mantra, kedua hari tersebut memiliki kaitan dengan warisan pengetahuan dalam tradisi. “Saya rasa kariernya seorang guru. Dan lahir dan meninggalnya juga pas di hari yang sangat baik. Jadi itu yang perlu ingin saya sampaikan,” ujar Rai Mantra. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN