Suasana di Pura Tuluk Biyu Batur, Kintamani.(BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Karya Agung Madewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat digelar di Pura Tuluk Biyu Batur. Rangkaian upacara ini telah dimulai sejak akhir Agustus lalu dan akan berlangsung hingga awal Oktober mendatang.

Pamucuk Pura Tuluk Biyu Batur Palinggih Dane Jero Kelodan, menjelaskan bahwa upacara bhakti Madewasraya ditujukan kepada Ida Bhatara yang berstana di Gunung Abang. Menurut Prasasti yang disungsung pangempon Pura Tuluk Biyu Batur, ritual ini dilaksanakan ketika dunia dilanda bencana dan wabah. Upacara Madewasraya sebelumnya pernah digelar pada 2006 usai peristiwa Bom Bali. “Saat ini krama pengempon menginisiasi kembali upacara Madewasraya karena banyakanya bencana alam dan perang dimana-mana,” ujarnya didampingi Palinggih Dane Jero Kaleran, Jumat (11/9).

Baca juga:  Aktor Kanada Tari Telanjang di Gunung Batur Akhirnya Dideportasi

Langkah spiritual ini diambil sebagai jalan Niskala saat upaya Sekala dari pemerintah maupun pimpinan adat menghadapi keterbatasan.

Lebih lanjut disampaikan Palinggih Dane Jro Kelodan bahwa rangkaian karya ini sudah mulai dilaksanakan sejak 28 Agustus lalu dengan upacara nuwasin karya/naceb rompok/tetaring. Pada Jumat (11/9) bertepatan dengan tilem ketiga dilaksanakan beberapa ritual di antaranya ngingsah, nyalcal, negtegang Bhatari Sri. Dilanjutkan dengan mekarya sanganan suci, ngadegang sanggar tawang, sunari, nyangling dan mebumi suda. Pada 16 September akan dilaksanakan bhakti tawur agung. Selanjutnya pada 21 September dilaksanakan ritual bhakti pakelem di dua lokasi yakni Gunung Abang dan Segara Danu Batur. “Puncak karya akan berlangsung 26 September dan nyineb karya pada 6 Oktober,” jelasnya.

Baca juga:  Pohon Tumbang Terjang Pura Tangkas Kori Agung di Sekartaji

Karya agung ini menggunakan beberapa ekor hewan sebagai sarana upakara. Di antaranya berupa 13 ekor kerbau, 3 ekor sapi, dan 15 ekor kambing.

Melalui ketulusan pelaksanaan karya agung ini, Palinggih Dane Jro Kelodan berharap alam semesta kembali landuh, damai, serta terbebas dari bencana.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara I Wayan Gunawan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta respons positif sejak tahap awal perencanaan karya agung ini. Apresiasi dan terimakasih ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Bali, para bupati dan wali kota se-Bali, organisasi keumatan PHDI, serta seluruh krama pengempon dan penyungsung Pura Tuluk Biyu yang tulus ikhlas ngayah.

Baca juga:  Cegah Terulangnya Penodaan Kesucian Pura, Utama Mandala Harus Ditutup untuk Wisata

Gunawan menegaskan bahwa adanya rekomendasi PHDI per Mei 2026 semakin memperkuat posisi Pura Tuluk Biyu sebagai Pura Kahyangan Jagat. Melalui karya Agung Madewasraya ini umat sedharma diharapkan semakin kukuh ngayah, serta kedamaian dan keselamatan jagat raya selalu terjaga. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN