Kalaksa BPBD Bali, I Gede Teja. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang mengalami peningkatan memunculkan kekhawatiran terjadinya megathrust.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali memastikan anggapan tersebut tidak tepat. Aktivitas erupsi gunung api dan gempa megathrust memiliki mekanisme berbeda.

Kalaksa BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan aktivitas erupsi beberapa gunung api merupakan fenomena yang wajar terjadi di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari banyaknya gunung api aktif yang tersebar di wilayah Indonesia.

“Beberapa gunung erupsi itu hal wajar, karena memang kita punya banyak gunung. Ada 127 gunung api di Indonesia. Pasti tiap tahun beberapa di antaranya erupsi,” ujar Gede Teja, Senin (7/9).

Salah satu aktivitas vulkanik yang menjadi perhatian belakangan ini terjadi di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Erupsi berlangsung sejak Jumat (4/9) hingga Minggu (6/9).

Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. Meski episode tersebut berakhir, aktivitas vulkanik di sekitar gunung masih dipantau karena tingkat kegempaannya masih tinggi.

Kondisi itu kemudian dikaitkan sebagian masyarakat dengan potensi gempa besar. Namun, Teja menegaskan aktivitas gunung api tidak memiliki hubungan langsung dengan gempa megathrust.

“Erupsi gunung tidak berkaitan langsung dengan megathrust. Erupsi gunung bisa memicu gempa vulkanik, bukan gempa tektonik,” jelasnya.

Baca juga:  Ratusan Kepsek dan Guru di Karangasem Dimutasi

Gempa vulkanik pada dasarnya berkaitan dengan aktivitas magma dan perubahan tekanan di dalam sistem gunung api. Sementara gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan maupun pelepasan energi pada struktur tektonik bumi.

Adapun gempa megathrust merupakan salah satu jenis gempa besar yang dapat terjadi pada bagian dangkal zona subduksi, yaitu wilayah ketika satu lempeng bumi menunjam ke bawah lempeng lainnya. Zona megathrust berada pada bagian dangkal zona subduksi dengan sudut penunjaman relatif landai.

Meski erupsi gunung api bukan indikator langsung megathrust, bukan berarti Bali terbebas dari potensi gempa bumi. Secara geografis, Bali berada di kawasan tektonik aktif dengan sejumlah sumber gempa di sekitar wilayahnya.

Teja menegaskan, zona megathrust memang merupakan potensi bencana yang harus diwaspadai. Akan tetapi, keberadaan potensi tersebut tidak berarti waktu terjadinya gempa besar dapat dipastikan.

“Yang namanya megathrust itu potensi. Kapan terjadinya tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Dari sisi vulkanik, Bali juga memiliki dua gunung api aktif yang menjadi bagian dari karakter geologis Pulau Dewata, yakni Gunung Agung di Kabupaten Karangasem dan Gunung Batur di Kabupaten Bangli.

Gunung Agung merupakan gunung api tipe A yang pernah mengalami erupsi besar pada 1963. Sementara Gunung Batur juga merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan Bangli.

Baca juga:  Aqua Mambal Kembangkan Biogas untuk Kampung Mandiri Energi Bongkasa Pertiwi

Untuk pemantauan aktivitas gunung api, BPBD Bali berkoordinasi dengan Badan Geologi. Menurut Teja, pemantauan aktivitas vulkanik merupakan kewenangan Badan Geologi.

Sementara pemantauan gempa bumi dan aktivitas seismik menjadi bagian dari tugas BMKG.

“Kalau gunung hubungannya dengan Badan Geologi, bukan BMKG. Kami selalu kontak. Tidak ada aktivitas vulkanik gunung di Bali saat ini. Masih kondisi normal,” tegasnya.

Pihaknya meminta masyarakat tidak panik menyikapi informasi mengenai erupsi gunung api di sejumlah wilayah Indonesia maupun isu megathrust yang kembali ramai.

Menurut Teja, kewaspadaan tetap penting, tetapi harus disertai pemahaman mengenai karakter setiap ancaman bencana. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.

“Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan memahami kita memang berdampingan dengan ancaman. Yang penting kita selalu waspada, melakukan langkah-langkah mitigasi, ikuti perkembangan informasi-informasi resmi,” tandasnya.

Sementara itu, PMG Pertama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Aina Najwa Darmanto, menerangkan berdasarkan data BMKG, sumber gempa di sekitar Bali antara lain berasal dari zona subduksi di sebelah selatan Bali serta patahan naik belakang busur atau Flores Backarc Thrust di sebelah utara.

Baca juga:  Komplotan Copet Spesialis WNA Ditembak

Peta Seismisitas Wilayah Bali periode Januari-Agustus 2026 juga memperlihatkan episenter gempa tersebar di daratan Bali maupun perairan di sekitarnya.

Salah satu konsentrasi aktivitas kegempaan terlihat di sepanjang Selat Lombok yang berkaitan dengan Lombok Strait Strike-slip Fault. Sementara di bagian utara Bali terdapat sebaran gempa pada zona Flores Backarc Thrust.

Dalam delapan bulan pertama 2026, BMKG mencatat sebanyak 852 kejadian gempa di wilayah Bali dan sekitarnya.

Aktivitas tertinggi tercatat pada Januari dengan 392 kejadian. Berikutnya Maret 105 kejadian, April 63 kejadian, Mei 60 kejadian, Juni 58 kejadian, Juli 77 kejadian, dan Agustus 61 kejadian. Sementara Februari tercatat sebanyak 36 kejadian.

Dari total 852 kejadian tersebut, sebanyak 802 gempa memiliki magnitudo M ≤ 3,0. Kemudian 50 kejadian berada pada kisaran 3,0 < M < 5,0.

Sedangkan sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tidak tercatat gempa dengan magnitudo M ≥ 5,0 di wilayah Bali dan sekitarnya berdasarkan data yang disampaikan BMKG.

Data tersebut menunjukkan aktivitas kegempaan merupakan bagian dari karakter geologi Bali. Namun, banyaknya gempa kecil tidak dapat digunakan sebagai indikator bahwa gempa megathrust akan segera terjadi. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN