Dr. Stephanie Riady (kanan). (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali memiliki konteks khas dalam pengembangan pendidikan. Di tengah semakin intensifnya interaksi masyarakat setempat dengan perkembangan teknologi, budaya, dan komunitas global, Bali tak kehilangan jati dirinya. Demikian dikemukakan praktisi pendidikan, Dr. Stephanie Riady.

Ia mengatakan Bali memiliki konteks yang khas karena keterbukaan masyarakatnya terhadap dunia berjalan berdampingan dengan kemampuan menjaga tradisi dan identitas lokal.

“Setiap kali datang ke Bali, saya selalu mendapatkan kesan yang sangat kuat. Bali memiliki taksu, sebuah kemampuan yang luar biasa untuk menerima dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri. Di sini, tradisi hidup berdampingan dengan modernitas,” kata Stephanie yang merupakan Presiden Pelita Harapan Group.

Ia mengutarakan kondisi tersebut menyimpan pelajaran penting bagi pendidikan, yakni bagaimana mempersiapkan anak menjadi bagian dari dunia tanpa membuat mereka kehilangan akar dan identitasnya. Prinsip itu semakin relevan ketika teknologi dan kecerdasan artifisial berkembang cepat serta mampu mengambil alih berbagai kemampuan yang sebelumnya dianggap hanya dapat dilakukan manusia.

Baca juga:  "Thumbs up", The Theme for 6th Anniversary of b Hotel Bali & Spa

Oleh karena itu, menurut Stephanie, pertanyaan pendidikan hari ini tidak cukup lagi sebatas apa yang harus diketahui anak, tetapi juga apa yang harus tetap menjadi kekuatan manusia ketika teknologi semakin pintar.

“Jawabannya adalah karakter, kebijaksanaan, integritas, keberanian, empati, kemampuan membedakan yang benar dan salah, serta iman yang memberikan arah bagi kehidupan. Kecerdasan saja tidak cukup. Pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan anak memperoleh nilai terbaik atau masuk ke universitas terbaik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia,” ujarnya di sela-sela peluncuran Sekolah Dian Harapan (SDH) Global Bali di Badung.

Ia menilai pendidikan masa depan perlu mempersiapkan anak bukan hanya untuk menjawab ujian, tetapi juga menghadapi pertanyaan kehidupan yang jauh lebih kompleks mencakup apakah mereka dapat dipercaya, mampu menyelesaikan masalah, bekerja bersama orang yang berbeda, berani melakukan hal yang benar, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Baca juga:  Visit to Gilimanuk Bay Increases on Long Holidays

Stephanie juga menempatkan relasi antara pendidik dan peserta didik sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Menurut dia, memilih sekolah pada akhirnya bukan semata persoalan kurikulum, fasilitas, maupun capaian akademik, tetapi juga memastikan setiap anak benar-benar dikenal sebagai pribadi.

Bali, lanjut Stephanie, memberikan ruang yang unik karena anak-anak tumbuh di tengah perjumpaan berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan cara pandang. Namun, terpapar pada dunia tidak otomatis berarti memahami dunia, sebagaimana menjadi global tidak berarti semakin jauh dari Indonesia.

“Justru saya percaya, semakin kuat akar seorang anak, semakin percaya diri ia menghadapi dunia. Saya ingin anak-anak kita mampu belajar di Bali, melanjutkan pendidikan di universitas terbaik di mana pun, kemudian menjadi ilmuwan, pengusaha, pendidik, seniman, pemimpin, atau profesi apa pun yang mereka pilih, tanpa kehilangan pertanyaan tentang apa yang dapat saya lakukan dengan pengetahuan ini untuk memberikan manfaat bagi Indonesia dan bagi sesama?” ujarnya.

Baca juga:  Sayan Prepares IDR 134 million to Develop Tourism

Academic Advisor SDH Dr. Barry Shealy sependapat. Ia mengatakan standar akademik global tidak cukup dibangun hanya dengan mengadopsi kurikulum internasional. Kualitas pembelajaran harus ditopang pengembangan guru melalui pelatihan, coaching, kolaborasi, serta peningkatan praktik pembelajaran secara berkelanjutan.

Sementara itu, School System Coordinator Sekolah Dian Harapan (SDH) dan Director of Enrollment & New School Initiatives Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), Deny Kiswanto Sinaga, pada kesempatan yang sama mengatakan pendidikan anak membutuhkan kemitraan antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Menurut dia, tanggung jawab sekolah tidak berhenti pada keberhasilan akademik, tetapi turut membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. (Winata/balipost)

BAGIKAN