Dian Siswarini memberikan keterangan terkait pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Indonesia merupakan pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik. Nilai pertumbuhan ekonomi digitalnya diperkirakan menembus USD 130 milar pada tahun ini. Demikian mengemuka dalam persiapan konferensi telekomunikasi internasional yang digelar di Nusa Dua, Badung.

Menurut penyelanggara, Dian Siswarini, nilai pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia diproyeksikan akan mencapai lebih dari USD 300 milar pada 2030. “Ini akan menjadikan Indonesia sebagai pasar digital yang paling prospektif di kawasan ini,” papar Dian.

Menurutnya, Indonesia mempunyai peluang yang luar biasa sebagai pesaing bagi para pemain di kawasan Asia Pasifik. Apalagi negara-negara di kawasan ini begitu agresif untuk berinvestasi pada AI.

“Kita harus bisa menterjemahkan potensi itu ke dalam infrastruktur digital yang mumpuni mulai dari konektivitas hingga platform yang berstandar internasional,” imbuh Dian yang merupakan Direktur Utama Telkom ini.

Dian menegaskan, membangun daya saing digital bukan hanya siapa yang paling besar dan cepat membangun infrastruktur digital, tapi jauh lebih penting adalah bagaimana membangun ekosistem.

“Kami percaya yang paling penting dalam menumbuhkan dan mengambil potensi kenaikan ekonomi digital adalah berkolaborasi dengan semua pelaku di ekosistem digital,” ujar Dian.

Baca juga:  Sangat Prospektif, Ekonomi Digital Perlu Perhatian Serius Pemerintah

Terkait penyelenggaraan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) di Nusa Dua, ia menyebut sebanyak 2.700 delegasi dari 67 negara akan hadir. Pertemuan yang membahas mengenai industri telekomunikasi ini telah memasuki tahun kesebelas.

Dibandingkan tahun lalu, kepesertaan dari berbagai negara terus bertambah. Pada tahun lalu jumlah peserta sebanyak 1.800 delegasi, tahun ini jumlah delegasi yang datang mencapai lebih dari 2.700 orang atau naik lebih dari 50 persen.

Jumlah negara yang terlibat juga makin banyak, dari 55 negara pada tahun lalu, kali ini menjadi 67 negara. “Jumlah peserta tahun ini luar biasa,” kata Dian.

Delegasi yang datang merupakan representasi dari lebih dari 760 perusahaan dengan agenda 4.000 pertemuan. Mereka terdiri para pelaku industri telekomunikasi, penyedia teknologi, hyperscaler, regulator dan investor.

Dalam pelaksanaan konferensi telekomunikasi ini, fokus utama bahasan adalah adopsi kecerdasan buatan/artificial inteligence (AI). Chief Executive Officer (CEO) Telin, Abdul Rahman Ansyori, menegaskan bahwa perubahan perilaku konsumen, kemajuan cloud, dan AI telah mengubah cara kerja industri secara mendasar. Jaringan telekomunikasi modern dituntut untuk berevolusi.

Baca juga:  Perdagangan Ekonomi Digital di 2021 Capai Ratusan Triliun Rupiah

“Jaringan saat ini tidak lagi sekadar mentransfer informasi, melainkan connecting intelligence. Pertumbuhan ini tidak bisa dikerjakan sendiri, melainkan butuh kolaborasi dari operator, regulator, hingga penyedia platform digital,” kata Abdul.

Untuk menopang kebutuhan tersebut, pihaknya fokus mengamankan tiga koridor utama dunia, yakni rute Indonesia ke Asia, rute Transpasifik (Asia Tengah hingga Amerika), serta rute Asia-Eropa, sembari berekspansi ke Timur Tengah dan Afrika.

Sementara itu, Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba mengatakan, Telin yang merupakan bagian dari Telkom Group saat ini cukup dominan sebagai pemain infrastruktur di kawasan regional yang lebih banyak fokus kepada connectivity.

Diungkapkan, pertumbuhan Telin cukup tinggi dari sisi bisnis. Dari tahun ke tahun bisnis connectivity yang ditopang kabel laut tumbuh di atas 20 persen.

Budi melanjutkan, dengan pertumbuhan AI yang cukup tinggi saat ini, kebutuhan connectivity juga meningkat sangat tajam bisa 10 kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Baca juga:  Membentuk Kepemimpinan "Digital Minded"

Hal inilah yang mendasari pihaknya terus fokus di pembangunan infrastruktur khususnya kabel laut internasional. Tahun lalu, pihaknya telah menyelesaikan kabel laut dari Singapura ke Amerika lewat perairan Indonesia. “Untuk membangun kabel laut itu butuh waktu lima tahun. Tapi ini kurang dari satu tahun kapasitasnya sudah habis karena demand AI. Jadi kecepatan pertumbuhan demand jauh lebih cepat dari kita membangun infrastruktur,” ungkap Budi.

Tantangan kian kompleks karena kondisi geopolitik di Timur Tengah, seperti kerawanan di Selat Hormuz. Jika kabel terputus di titik krusial, dampaknya sangat besar bagi konektivitas Asia hingga Eropa.

Guna memitigasi risiko tersebut, peta industri kini bergeser dari penyediaan rute ganda (redundancy) menjadi 4 hingga 5 rute alternatif. Situasi perdataan global—termasuk dinamika geopolitik kawasan ini membuka peluang emas bagi Indonesia.

“Posisi perairan Indonesia menjadi sangat penting sebagai jalur alternatif yang aman. Ini saatnya kita mengambil peluang untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai regional hub konektivitas digital dunia,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN