Dian Siswarini. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Indonesia mengambil peluang menarik investasi dengan menjadikan wilayah perairannya sebagai salah satu rute alternatif kabel bawah laut dunia. Sebab, situasi global yang tidak menentu, salah satunya ketegangan di Selat Hormuz, menjadikan rute alternatif konektivitas sangat diperlukan.

“Ambisinya adalah memposisikan Indonesia bukan hanya sebagai tujuan konektivitas, tetapi sebagai hub (penghubung) strategis di kawasan Asia Pasifik,” kata Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Rabu (26/8).

Dalam paparannya, ia menjelaskan melalui Kabel Ekspres Indonesia (ICE), BUMN itu menerjemahkan strategi tersebut melalui beberapa koridor dengan memperkuat jalur inti yaitu kawasan intra Asia, Trans-Pasifik, dan Asia-Eropa. Tak hanya itu, dilansir dari Kantor Berita Antara, pihaknya juga menyiapkan ekspansi selanjutnya yaitu Eropa-Timur Tengah dan Afrika, Trans-Atlantik dan Amerika Serikat-Amerika Latin.

Dengan begitu, lanjut dia, diversifikasi jalur kabel bawah laut memberikan kepastian dan daya tahan di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Jadi tujuannya bukan sekadar membangun lebih banyak kabel tapi menciptakan jaringan koridor strategis yang terintegrasi, yang menjadikan Indonesia sebagai gerbang yang lebih kuat antara pasar Asia-Pasifik dan ekonomi digital global yang lebih luas,” ucapnya.

Baca juga:  XL East Region Fokus Garap Ekonomi Digital

Berbicara di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, ia menegaskan perlunya upayabmemperkuat kolaborasi ekosistem digital. Ia menyebut dalam setiap platform digital, ada sesuatu yang mendasar yang memungkinkan semua itu, yaitu konektivitas.

“Konektivitas kini bukan lagi sekadar infrastruktur yang membawa informasi, tapi juga menjadi fondasi tempat ekonomi digital masa depan akan dibangun,” kata Dian.

Menurut Dian, pihaknya melihat perubahan itu dan bagaimana mengatasinya. Yang juga sangat penting, adalah bagaimana fase pertumbuhan digital selanjutnya harus dibangun bersama sehingga menyatukan ekosistem untuk mendorong kemajuan

Ia melihat kolaborasi menjadi fondasi utama dalam menangkap peluang dan membangun masa depan ekonomi digital yang semakin terhubung. Ia pun mengatakan pihaknya terus memperluas infrastruktur dan mengembangkan pertumbuhan platform digital yang dapat menghubungkan Indonesia dengan seluruh dunia, dan platform yang menghubungkan peluang digital global ke Indonesia.

Melihat permintaan yang terus meningkat, membangun dan mengoperasikan infrastruktur digital saat ini bukan hanya tentang menghubungkan titik ke titik. “Kita juga perlu menghubungkan kemampuan dari setiap infrastruktur ini bersama-sama,” papar Dian.

Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba mengatakan, kolaborasi di ekosistem digital dibutuhkan seiring dengan meningkatnya permintaan.

Baca juga:  Two Bulgarian Suspected to Commit Skimming

Dia mencatat, pertumbuhan adopsi cloud berada di kisaran 30 persen dari tahun ke tahun. Namun, dalam tiga tahun terakhir, terlihat ada peningkatan karena adanya faktor pendorong utama yang berasal dari AI.

“Lonjakan permintaan hingga 10 hingga 20 kali lipat yang dipicu oleh AI ini,” ungkap Budi dalam sesi panel.

Menurut dia, tantangan terbesar saat ini bukanlah mendapatkan permintaan, melainkan bagaimana dapat menyediakan kapasitas pasokan yang memadai secara tepat waktu.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Telin, Abdul Rahman Ansyori menyebutkan dua situasi dunia membawa peluang kepada Indonesia, khususnya tujuan alternatif konektivitas kabel bawah laut dunia.

Situasi dunia itu yakni kawasan Laut China Selatan termasuk perang dagang dan krisis geopolitik di Timur Tengah termasuk ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Ia menjelaskan ketika menginisiasi kabel bawah laut, salah satunya Bifrost dari Manado ke Amerika Serikat, menarik peminat perusahaan asing termasuk dari Amerika Serikat yang menghindari jalur Laut China Selatan.

Begitu juga konektivitas negara-negara di Asia Selatan seperti India, Pakistan dan Bangladesh menuju Amerika Serikat, jalurnya melalui Eropa dan Timur Tengah.

Baca juga:  Chinese Tourist Visits to Bali Decline 29 Percent

Namun mencermati eskalasi di kawasan Timur Tengah, maka perairan Indonesia menjadi alternatif yang langsung terhubung ke benua Amerika termasuk Amerika Serikat.

“Itu-lah yang sedang kami bangun sekarang melalui ICE yang menghubungkan semua kontinen ini sehingga ada alternatif rute baru dan kami ingin menjadikan Indonesia rute baru yang memberikan daya tahan konektivitas global,” ucapnya.

Peluang itupun diyakini menarik banyak investasi ke Indonesia karena membangun kabel bawah laut membutuhkan kolaborasi salah satunya melalui konsorsium.

Indonesia misalnya, melalui BUMN itu menginvestasikan sekitar 18-20 persen dari total pendapatan konsolidasi tahunan untuk investasi infrastruktur digital.

Saat ini, pihaknya memiliki jaringan fiber optik sepanjang 545.011 kilometer, mencakup domestik sepanjang 115.844 kilometer dan internasional 429.167 kilometer.

Kemudian, 34 sistem kabel bawah laut internasional yaitu 12 kabel bawah laut melalui konsorsium dan 22 milik sendiri. Selain itu ada 297.292 jaringan pemancar telekomunikasi, 44.799 tower dan 36 pusat data baik global dan domestik, serta tiga satelit dengan total kapasitas 42,2 gigabit per detik (Gbps). (kmb/balipost)

BAGIKAN