Pengurukan di TPA Mandung, Kecamatan Kerambitan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Upaya pengendalian timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, terus dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tabanan. Penerapan metode controlled landfill atau pengurukan sampah menggunakan lapisan tanah saat ini sudah mencapai sekitar 70 persen.

Kepala DLH Tabanan I Made Surya Darma, mengatakan, sampah yang sudah diratakan dan dipadatkan sebelumnya lalu ditutup dengan lapisan tanah akan dapat memperkecil dampak yang dapat timbul dan merugikan lingkungan. Selain itu, langkah ini juga salah satu upaya antisipasi munculnya titik panas maupun potensi kebakaran akibat gas metan yang dapat terjadi di tengah kemarau panjang.

“Sampah yang telah ditimbun lalu ditutup dengan tanah untuk meminimalkan paparan udara sekaligus menekan potensi terjadinya kebakaran. Dan ini sudah rutin kami lakukan,”ucapnya.

Baca juga:  Solidaritas Gotong Royong Ringankan Dampak Sosial Pandemi

Menurut dia, penerapan controlled landfill saat ini masih terus dikebut. Dari keseluruhan penanganan yang ditargetkan, progres pengurukan telah mencapai sekitar 70 persen dan akan terus dilanjutkan menyesuaikan kondisi timbunan serta volume sampah yang masuk setiap harinya.

Intensitas pengurukan, kata Surya Darma, dapat dilakukan hingga dua kali dalam sepekan apabila volume sampah sudah memenuhi kondisi yang memerlukan penutupan menggunakan tanah. “Bisa dilakukan dua kali seminggu, itu jika volume sampah sudah memenuhi,” jelasnya.

Langkah tersebut dinilai lebih efektif sebagai upaya pencegahan kebakaran dibandingkan hanya mengandalkan penyiraman. Terlebih, timbunan sampah yang mengandung bahan organik dapat menghasilkan gas metan yang mudah terbakar apabila bertemu dengan sumber pemicu kebakaran.

Baca juga:  Nama Desa Adat Mengakomodasi Nomenklator Peraturan Nasional

Meski demikian, DLH Tabanan tetap menyiagakan sarana pemadaman sebagai langkah antisipasi. Tangki air dan pompa disiapkan apabila sewaktu-waktu muncul kondisi darurat di kawasan TPA.

Surya Darma menjelaskan, penyiraman tidak dilakukan sebagai metode utama karena kondisi timbunan harus terlebih dahulu dipertimbangkan. Karena itu, penutupan menggunakan tanah secara berkala menjadi langkah yang lebih rutin diterapkan.

“Untuk pemadaman kita siaga, tangki air dan pompa ada. Tetapi kalau disiram, nanti ada kondisi tertentu. Jadi yang rutin kita lakukan adalah pengurugan,” katanya.

Dia menyebut, bagian timur TPA Mandung menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian lebih. Di bagian tersebut masih terdapat ruang yang memungkinkan udara masuk ke dalam timbunan sehingga pengendalian terus dilakukan untuk mencegah munculnya titik panas.

Baca juga:  TPA Mandung Kebakaran

Pengurukan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan volume sampah dan kondisi lapangan. Bersamaan dengan itu, pengawasan terhadap titik-titik yang dinilai rawan juga terus dilakukan petugas DLH.

Surya Darma menegaskan, langkah pencegahan menjadi prioritas sebelum terjadi kebakaran. Selain mempercepat pengurugan, kesiapsiagaan personel dan sarana pemadaman tetap dipertahankan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk selama musim kemarau. “Tentu yang diharapkan tidak sampai terjadi kebakaran di TPA Mandung nantinya,karena pengurugan sudah intens dilakukan untuk mencegah hal tersebut,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN