
DENPASAR, BALIPOST.com – Rektor Universitas Warmadewa (Unwar) yang juga Dosen Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Unwar, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P. berhasil meraih Paten Sederhana atas invensinya berjudul “Metode Pengawetan Pindang Tongkol (Auxis thazard) Menggunakan Vacuum Sealer”.
Keberhasilan tersebut berdasarkan Surat Pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Nomor HKI-3-KI.05.01.08-DS- S00202510738 tertanggal 27 Juli 2026, dengan Nomor Permohonan S00202510738.
Pengajuan paten sederhana tersebut telah dilakukan sejak 23 Oktober 2025. Proses hingga memperoleh pemberitahuan keberhasilan membutuhkan waktu hampir satu tahun dan melalui sejumlah tahapan, termasuk beberapa kali perbaikan dan penyempurnaan dokumen invensi.
Invensi yang dikembangkan Prof. Pandit ini berada dalam bidang teknologi pengolahan hasil perikanan. Teknologi tersebut ditujukan untuk memperpanjang masa simpan pindang tongkol tanpa menggunakan bahan pengawet kimia, sekaligus mempertahankan cita rasa, tekstur, aroma, dan mutu gizi produk.
Prof. Pandit mengungkapkan metode pengawetan tersebut diawali dengan menyiapkan ikan tongkol (Auxis thazard) segar, kemudian dilakukan penyiangan isi perut dan insang. Selanjutnya, ikan diberi garam sebanyak 10 persen dari berat ikan dan diproses melalui pemindangan dengan cara direbus pada suhu 100°C selama 30 menit.
Setelah proses pemindangan, ikan didinginkan hingga mencapai suhu ruang pada kisaran 28–33°C. Tahap berikutnya adalah membersihkan tulang vertebrae, kemudian pindang tongkol dikemas menggunakan vacuum sealer dalam bentuk belah dua atau butterfly.
Dikatakan, penggunaan teknologi pengemasan vakum menjadi bagian penting dalam invensi ini karena mampu mengurangi kadar oksigen di dalam kemasan. Kondisi tersebut dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memperlambat proses oksidasi lemak, serta membantu mempertahankan aroma dan kelembutan daging ikan.
Berdasarkan hasil pengujian dalam invensi tersebut, produk pindang tongkol yang dikemas dengan metode ini mampu bertahan hingga 1 hari pada suhu ruang dan hingga 3 hari pada suhu dingin 15°C, dengan mutu organoleptik yang masih tergolong baik.
Prof. Pandit mengaku keberhasilan memperoleh paten sederhana ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Unwar dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian dan inovasi dosen, khususnya dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang aplikatif dan memiliki manfaat bagi masyarakat.
Selain memiliki nilai akademik, inovasi tersebut juga berpotensi mendukung pengembangan produk perikanan tradisional agar memiliki daya simpan yang lebih baik, proses pengemasan yang lebih modern, serta nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha pengolahan hasil perikanan.
Sebagai pimpinan Unwar, pihaknya terus mendorong sivitas akademika untuk menghasilkan penelitian dan inovasi yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat diwujudkan dalam bentuk kekayaan intelektual, teknologi tepat guna, produk inovatif, serta solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (Ketut Winata/balipost)



