Penebaran 50.000 ekor benih nila secara swadaya di Subak Dwi Eka Buana Pausan, Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penerapan sistem minapadi berbasis kelembagaan subak di Kabupaten Gianyar mulai membuka peluang ekonomi baru bagi sektor pertanian dan perikanan air tawar Bali. Lahan sawah dan jaringan irigasi yang selama ini menjadi penopang produksi padi kini dimanfaatkan secara terintegrasi untuk pendederan benih ikan nila.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan benih ikan nila bagi pembudidaya Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Batur, Kabupaten Bangli. Model ini sekaligus memperkuat keterhubungan rantai pasok perikanan air tawar antara kawasan hulu irigasi di Gianyar dan sentra budidaya ikan di kawasan Danau Batur.

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Ir. I Gede Sudiarta, M.Si., mengatakan pengembangan minapadi tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan memanfaatkan potensi hulu irigasi subak tanpa mengganggu produktivitas tanaman padi sebagai komoditas utama.

“Kegiatan ini sudah berjalan dan dilaksanakan sejak awal Agustus lalu di lapangan. Pendekatan berbasis data ini penting agar pengembangan minapadi tidak berhenti sebagai inovasi demonstratif, tetapi berkembang menjadi usaha yang layak secara ekologis, teknis, dan ekonomi,” ujar Sudiarta saat dikonfirmasi, Jumat (21/8).

Baca juga:  Dipentaskan Saat HUT Kota Bangli ke-814, Tarian Sanghyang Jaran Pukau Penonton

Menurutnya, keterkaitan geografis antara kawasan pertanian di Gianyar dan sentra budidaya ikan di Danau Batur menjadi peluang untuk membangun rantai pasok benih yang lebih dekat dan berkelanjutan.

Petani sawah, kata Sudiarta, dapat mengoptimalkan fungsi air irigasi untuk menghasilkan benih nila berukuran sekitar 8–10 sentimeter yang dibutuhkan pembudidaya KJA di Danau Batur.

“Jadi, ada keterkaitan antara sektor pertanian di bagian hulu dengan perikanan budidaya di wilayah hilir. Petani tidak hanya memperoleh manfaat dari produksi padi, tetapi juga memiliki peluang pendapatan tambahan melalui pendederan ikan,” jelasnya.

Pengembangan minapadi dilakukan secara bertahap. Mulai dari penyuluhan, pelatihan teknis pendederan, hingga penyediaan demonstrasi plot (demplot) sebagai sarana pembelajaran bagi petani.

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut bahkan mendorong perluasan demplot. Dari target awal dua lokasi, pelaksanaan diperluas menjadi tiga lokasi dengan kapasitas awal mencapai sekitar 10.500 ekor benih nila.

Tidak berhenti pada demplot, petani setempat juga mulai mengambil inisiatif secara mandiri. Salah satu bentuknya ditunjukkan melalui penebaran hingga sekitar 50.000 ekor benih nila secara swadaya.

Baca juga:  Dari Bangli akan Bangun GOR Seluas 5 Hektare hingga Mentan Diisukan Kena "Reshuffle"

Pekaseh Subak Dwi Eka Buana Pausan, Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar, I Ketut Adayana, mengatakan pihaknya menyambut positif penerapan teknologi pendederan ikan melalui sistem minapadi. Menurutnya, integrasi pemeliharaan ikan di lahan sawah memberikan peluang diversifikasi pendapatan bagi anggota subak tanpa harus mengubah fungsi utama lahan sebagai areal pertanian padi.

“Kami mendukung pengembangan minapadi karena dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani tanpa meninggalkan usaha tani padi. Kalau demplot ini menunjukkan hasil yang baik, kami akan mendorong anggota subak lainnya untuk ikut mengembangkan,” kata Adayana.

Ia menambahkan, pemahaman mengenai hubungan antara aktivitas pendederan ikan dan sistem irigasi juga penting untuk menghilangkan kekhawatiran petani terkait ketersediaan nutrisi bagi tanaman padi.

Dalam sistem tersebut, aktivitas budidaya ikan dinilai dapat memberikan kontribusi bahan organik dan unsur hara alami ke dalam perairan. Meski demikian, pengembangan tetap membutuhkan pengelolaan dan pemantauan agar kualitas air serta kebutuhan tanaman padi tetap terjaga.

“Hal ini penting untuk kami pahami dan jelaskan kepada anggota subak, terutama jika ada kekhawatiran bahwa penggunaan air untuk budidaya ikan akan mengganggu pertumbuhan padi,” tuturnya.

Baca juga:  Puluhan Ortu Siswa "Ngadu" ke DPRD Bali

Sementara itu, Sudiarta mengatakan keberlanjutan program tidak hanya akan diukur dari kemampuan menghasilkan benih ikan, tetapi juga dari aspek teknis, ekologis, dan keekonomian. Karena itu, parameter budidaya akan dicatat dan dipantau secara berkala selama pendampingan berlangsung.

Data tersebut nantinya menjadi dasar untuk mengevaluasi produktivitas, tingkat keberhasilan pendederan, penggunaan sumber daya air, serta peluang pengembangan usaha oleh petani.

“Harapannya, model ini bisa menjadi contoh pengembangan minapadi berbasis kelembagaan subak yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki kelayakan ekonomi dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Pengembangan sentra benih nila berbasis subak tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai pasok benih menuju kawasan KJA Danau Batur sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi petani sawah.

Jika hasil pendampingan menunjukkan kinerja yang baik, model tersebut berpeluang direplikasi di kawasan subak lainnya yang memiliki karakteristik sumber daya air dan lahan yang sesuai, sehingga integrasi pertanian dan perikanan dapat berkembang sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal Bali. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN