Gde Sumarjaya Linggih. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (FII) harus dirancang dengan prinsip pemerataan. Hal ini disampaikan Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer.

Ia mengatakan pusat pertumbuhan ekonomi baru tersebut jangan hanya terkonsentrasi di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan).

“Pertumbuhan di Bali saat ini tidak merata, hanya di selatan saja. Saya minta financial center itu keberadaannya jangan di kawasan Sarbagita, tetapi mengarah ke wilayah Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat agar tercipta pertumbuhan yang berkualitas,” ujar Demer, Kamis (20/8).

Baca juga:  Indonesia Perketat Kedatangan Orang Asing, Dua Negara Ini Masuk Penularan Tinggi

Ia menilai pemerataan lokasi investasi penting agar manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan kawasan Bali Selatan. Pengembangan investasi di berbagai wilayah Bali diharapkan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah.

Menurut Demer, FII juga berpotensi menjadi instrumen penting untuk menarik investasi langsung dari luar negeri atau foreign direct investment (FDI). Masuknya investasi tersebut diharapkan memberikan dampak berantai terhadap perekonomian, baik di tingkat Bali maupun nasional.

Selain menarik investasi asing, keberadaan pusat finansial internasional dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, menyerap lebih banyak tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memicu investasi ke berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga:  Tambahan Pasien Sembuh Nasional Lebih Rendah dari Kasus COVID-19 Baru

“Bali memiliki daya tarik pariwisata dan reputasi yang sudah dikenal dunia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Demer.

Ia menambahkan, Bali tidak cukup hanya mengandalkan sektor pariwisata sebagai mesin ekonomi. Dengan ekosistem investasi yang tepat, Bali dapat dikembangkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus gerbang investasi global Indonesia.

Di sisi lain, pengembangan pusat finansial internasional membutuhkan dukungan infrastruktur strategis. Salah satu perhatian adalah kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang dinilai telah mendekati batas maksimal. Karena itu, diperlukan penguatan infrastruktur transportasi, termasuk opsi penambahan bandar udara, untuk mendukung mobilitas pelaku bisnis dan wisatawan mancanegara.

Baca juga:  E-Commerce Masih Jadi Penopang Ekonomi di 2023

Demer berharap pengembangan investasi di Bali tetap memperhatikan pemerataan wilayah dan keberlanjutan. Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai kawasan pertumbuhan baru sehingga aktivitas ekonomi tidak terus terkonsentrasi di Bali Selatan.

Dengan dukungan infrastruktur, konektivitas, serta ekosistem investasi yang memadai, Bali diharapkan tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai destinasi pariwisata dunia, tetapi juga berkembang sebagai pusat investasi dan pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN