Puri Agung Singasana Tabanan menggelar pawiwahan dengan prosesi lengkap ala kerajaan. Mempelai diarak menggunakan joli, Minggu (16/8) saat prosesi peminangan. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Puri Agung Singasana Tabanan menggelar pawiwahan dengan prosesi lengkap ala kerajaan. Pernikahan ini melibatkan dua keluarga besar puri di Tabanan, yakni Puri Agung Singasana dan Puri Dangin Tabanan.

Prosesi peminangan yang digelar Minggu (16/8) menggunakan instrumen sakral, Gamelan Gong Beri dan tandu yang digunakan untuk membawa mempelai khas kerajaan, joli.

Menurut Manggala Karya Pawiwahan Agung Puri Tabanan, Dr. I Gusti Ngurah Ardana, mempelai yang menikah dalam prosesi ala kerajaan ini adalah I Gusti Ngurah Bagus Dananjaya (putra kedua dari I Gusti Ngurah Putra dan Sagung Ayu Sri Sutrisni) dengan Sagung Putri Trian Dewi (putra ketiga dari I Gusti Ngurah Bagus Danasemara dan Dewa Ayu Putu Artati).

Baca juga:  Gamelan Gong Beri, Iringan Sakral Upacara Adat Bali

Ia mengatakan pernikahan ini termasuk spesial karena melibatkan dua puri di Tabanan sehingga menggunakan gong beri. Gong Beri adalah hasil akulturasi budaya Bali-China yang hanya dimainkan dalam peristiwa sangat khusus, seperti pawiwahan keluarga dekat kerajaan atau upacara besar dan sakral lainnya.

Dengan kombinasi gong berukuran khusus, klenteng (kenong bergaya China), kendang, dan suling, Gong Beri menghasilkan tetabuhan ritmis yang magis dan berat. Instrumen ini berfungsi mengatur langkah barisan arakan (mepeed).

“Ini adalah kali pertama dalam 60 tahun terakhir Gong Beri bergema lagi untuk mengiringi arakan mempelai kerajaan di Tabanan,” ujarnya.

Selain gamelan dari Gong Beri, penggunaan Joli untuk membawa kedua mempelai juga menunjukkan kemegahan dari prosesi ini. Arakan ini akan dikawal oleh perlengkapan kebesaran Puri seperti Tombak Bandrang dan Tedung Agung (payung agung).

Baca juga:  Pura Gede Luhur Batu Ngaus Desa Adat Cemagi Tempat Memohon Anugerah

Prosesi dimulai dengan ritual Ngungkab Lawang (ketuk pintu suci) yang dilakukan oleh dua sulinggih dan dua juru gending yang menembangkan syair-syair kidung/kekawin.

Usai sungkem dan pamit kepada orang tua, kedua mempelai ditandu dengan joli dan diarak (mepeed) dari Puri Dangin Tabanan menuju Puri Agung Singasana Tabanan. Di depan pintu masuk (Apit Surang) Puri Agung, mempelai wanita akan disambut dengan Banten Penyapa oleh ibu dari mempelai pria. Didahului oleh penyingkapan kerudung mempelai wanita sebagai sebuah simbol penerimaan resmi ke dalam lingkungan keluarga baru.

Baca juga:  Pencegahan COVID-19, Jangan Sampai Ada Aksi Blokade Jalan

Ia mengatakan puncak rangkaian upacara akan digelar pada Rabu (19/8), dengan prosesi mesakapan dan widi widana. Meski mengikuti pakem umum, dalam pawiwahan agung ini ada dua ritual tambahan, yakni mesop-sopan (ritual saling suap makanan antara suami-istri sebagai simbol kebersamaan, kerja sama, dan komitmen tulus dalam membangun rumah tangga) dan meangget-anggetan (prosesi) memetik daun pohon sebagai bagian medagang-dagangan yang melambangkan tawar-menawar kehidupan, kesabaran, serta harapan memperoleh kesejahteraan dan rejeki yang berlimpah).

Tiga hari setelah puncak acara, pada 22 Agustus 2026, kedua mempelai beserta keluarga besar akan melaksanakan upacara ngunye di Puri Dangin Tabanan, berupa persembahyangan bersama di merajan puri yang dipimpin oleh seorang sulinggih. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN