Sistem prefabrikasi diterapkan dalam proses pembangunan hunian. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sistem prefabrikasi mampu mempercepat pembangunan hunian tanpa mengorbankan kualitas desain, craftsmanship, fleksibilitas arsitektur, maupun pengalaman ruang. Seluruh panel, mulai dari struktur, dinding hingga elemen anyaman, difabrikasi di pabrik dan kemudian dirakit di lokasi.

Menurut praktisi industri hunian, Johan Yang, konsep ini bisa menghadirkan arsitektur premium yang menyatu dengan alam tanpa mengorbankan kualitas desain. Konsep market-ready Pre-Fabricated Building System ini siap diterapkan pada proyek akomodasi mewah dan hunian premium di kawasan tropis.

Bahkan, ia mengatakan dengan pendekatan tersebut, proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu sedikit lebih dari satu minggu.

Executive Vice President PT Polymindo Permata ini mencontohkan pilot project ViroFab, TenuNYamaN, yang dihadirkan pada JIA Curated 2026 di Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Pameran berlangsung pada 13 sampai 17 Agustus 2026.

Baca juga:  Sayan Prepares IDR 134 million to Develop Tourism

“TenuNYamaN tidak dihadirkan sebagai sekadar exhibition booth, melainkan sebagai living showcase berupa bangunan utuh yang dapat dimasuki, dirasakan, dan dievaluasi secara langsung,” ungkapnya.

Solusi ini disebutnya siap diterapkan untuk proyek luxury hospitality dan premium residential, dengan kepastian kualitas, waktu dan biaya tanpa mengurangi kebebasan desain arsitektur.

Konsep ini membawa narasi utama bahwa masa depan konstruksi bukan sekadar membangun lebih cepat, tetapi menghadirkan proses pembangunan yang lebih pasti. Kepastian tersebut mencakup kualitas hasil, waktu pengerjaan serta pengendalian anggaran, sekaligus tetap memberikan ruang bagi arsitek untuk menghasilkan desain yang memiliki karakter.

Baca juga:  Aston Denpasar Hosts the 5th National Pasraman Jamboree

Ia mengungkapkan selama ini ada tiga persoalan yang kerap muncul dalam pembangunan akomodasi mewah maupun hunian premium di Indonesia, yakni waktu yang tidak bisa diprediksi, anggaran yang membengkak, dan ketidakkonsistenan kualitas. Ketiga persoalan ini lah yang coba dijawab lewat prefabrikasi yang terkontrol. Sebagian proses pengerjaan dilakukan di lingkungan pabrik sehingga pekerjaan dapat berlangsung secara paralel, lebih terukur dan dengan standar pengerjaan yang konsisten.

Pendekatan tersebut juga memungkinkan perencanaan biaya dilakukan secara lebih akurat sejak tahap awal sekaligus mengurangi risiko keterlambatan dan ketidakkonsistenan kualitas di lokasi proyek.

Baca juga:  Mount Agung Activity Increases, No Indication of Large Eruption

Bangunan tidak diposisikan sebagai elemen yang berlawanan dengan lingkungan, tetapi dirancang untuk menyatu dengan karakter alam di sekitarnya.

Material, pencahayaan, vegetasi, proporsi ruang hingga pengalaman pengguna dirancang sebagai satu kesatuan yang harmonis dengan lingkungan tropis Bali.

“Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa penggunaan sistem prefabrikasi tidak harus menghasilkan bangunan yang kehilangan karakter. Sebaliknya, teknologi manufaktur dapat menjadi bagian dari proses menghadirkan arsitektur premium yang tetap memiliki pengalaman ruang dan nilai craftsmanship,” tutupnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN