Pemain Persebaya Surabaya mengangkat tropi juara Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung lewat adu penalti. (BP/suk)

GIAYAR, BALIPOST.com – Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, menjadi saksi lahirnya juara baru Piala Presiden 2026. Persebaya Surabaya memastikan trofi bergengsi itu dibawa pulang ke Kota Pahlawan setelah menundukkan Persib Bandung 6-5 melalui drama adu penalti, Kamis (6/8) malam di Stadion Kapten I Wayan Dipta.

Pertandingan yang berlangsung selama 120 menit berakhir imbang 1-1 sebelum ketangguhan kiper Reza Arya dan ketenangan Gledson Paixão memastikan Bajul Ijo berdiri di podium tertinggi.

Kemenangan ini terasa begitu manis bagi Persebaya. Selain mengakhiri perjalanan panjang dengan gelar juara, Bajul Ijo juga berhak atas hadiah utama Rp8 miliar. Sebaliknya, Persib harus menelan kekecewaan setelah gagal mempertahankan peluang meraih trofi meski tampil dominan dalam penguasaan bola.

Laga final sejak awal berlangsung dalam tempo tinggi. Persib mencoba mengendalikan permainan melalui aliran bola dari lini tengah, tetapi Persebaya justru lebih tajam saat melakukan transisi menyerang. Ancaman demi ancaman diawali lewat sundulan Yuran Fernandes dan peluang Francisco Rivera yang membuat lini belakang Maung Bandung bekerja keras.

Baca juga:  Dalam Dua Hari, 9 Warga Bali Dicatatkan Meninggal Tertular COVID-19

Tekanan itu akhirnya berbuah gol pada menit ke-19. Ramadhan Sananta memanfaatkan umpan matang Rachmat Irianto untuk membawa Persebaya unggul 1-0. Namun, keunggulan tersebut tak bertahan lama. Hanya tiga menit berselang, Persib membalas melalui Patricio Matricardi yang memanfaatkan bola liar hasil sepak pojok Luciano Guaycochea. Skor kembali imbang 1-1 dan membuat pertandingan semakin terbuka.

Selepas gol penyama kedudukan, duel berubah menjadi pertarungan terbuka. Persib terus menekan, sementara Persebaya mengandalkan serangan balik cepat. Kiper Ernando Ari tampil luar biasa di bawah mistar dengan beberapa penyelamatan krusial, termasuk menggagalkan peluang emas Balsa Sekulic. Skor imbang bertahan hingga jeda.

Babak kedua menjadi milik Persib dari sisi penguasaan bola. Luciano Guaycochea dan Adam Alis mengatur ritme permainan, tetapi rapatnya pertahanan Persebaya membuat setiap peluang gagal berbuah gol. Justru Bajul Ijo nyaris kembali memimpin ketika sundulan Yuran Fernandes pada menit ke-63 mengarah ke gawang. Beruntung bagi Persib, Adam Alis melakukan penyelamatan heroik di garis gawang.

Baca juga:  LIB Jelaskan Ditolaknya Malut dan Persebaya oleh AFF

Hingga waktu normal usai, kedua tim tetap buntu. Laga pun berlanjut ke babak tambahan waktu yang tak kalah panas. Intensitas permainan meningkat dan tensi semakin tinggi.

Puncak drama terjadi pada menit ke-112. Mariano Peralta diganjar kartu merah setelah pelanggarannya terhadap Francisco Rivera ditinjau ulang melalui VAR. Keputusan wasit mengubah kartu kuning menjadi kartu merah memaksa Persib bermain dengan 10 orang pada sisa pertandingan.

Meski unggul jumlah pemain, Persebaya gagal memanfaatkan momentum untuk mencetak gol kemenangan. Pertandingan pun harus ditentukan melalui adu penalti.

Baca juga:  Bali United Patok Target Pertahankan Trend Positif

Di babak tos-tosan, Persib sempat membuat kejutan dengan memasukkan Fitrah Maulana Ridwan menggantikan Teja Paku Alam khusus menghadapi adu penalti. Strategi itu sempat membuahkan hasil setelah Fitrah menggagalkan eksekusi Yuran Fernandes.

Namun, panggung sesungguhnya menjadi milik Reza Arya. Penjaga gawang Persebaya itu tampil sebagai pahlawan setelah menggagalkan tendangan Uilliam Barros dan Al Hamra Hehanussa. Dua penyelamatan tersebut menjadi penentu keunggulan Bajul Ijo.

Saat Gledson Paixão melangkah sebagai penendang terakhir, seluruh stadion menahan napas. Gelandang asal Brasil itu dengan tenang mengirim bola ke dalam gawang, mengunci kemenangan Persebaya 6-5 sekaligus memastikan trofi Piala Presiden 2026 resmi menjadi milik Bajul Ijo.

Dari Pulau Dewata, Bajul Ijo pulang dengan status kampiun, sementara Persib harus puas menjadi runner-up setelah perjuangan yang berakhir pahit di titik putih. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN