Siswa SMRP 17 Mahatmiya melakukan kegiatan jasmani di Sentra Mahatmiya, Tabanan saat pelaksanaan MPLS. (BP/Istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kepindahan operasional Sekolah Rakyat (SR) di Bali dari Tabanan ke Kabupaten Karangasem berdampak pada berkurangnya jumlah peserta didik. Seorang siswa asal Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, memilih mengundurkan diri lantaran menilai lokasi sekolah terlalu jauh dari keluarga.

Meski demikian, siswa tersebut dipastikan tetap melanjutkan pendidikan di sekolah reguler sehingga tidak sampai putus sekolah.

Kepala Sekolah Rakyat Bali, I Putu Jaya Negara, Kamis (30/7), membenarkan adanya satu peserta didik yang mengundurkan diri setelah proses belajar mengajar dipindahkan ke Karangasem. Menurutnya, keputusan tersebut murni dipengaruhi faktor jarak.

“Benar, satu siswa kami di SR mengundurkan diri per hari ini, alasannya lokasi sekolah jauh. Namun, yang bersangkutan dipastikan tidak sampai putus sekolah dan sudah diterima di SMPN 4 Tabanan,” ujarnya.

Baca juga:  Gedung SDN 2 Batumadeg Rusak, Siswa Belajar di Luar Kelas

Dengan adanya satu siswa yang mengundurkan diri, jumlah peserta didik Sekolah Rakyat saat ini menjadi 306 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk 73 siswa pindahan dari SRMP 17 yang sebelumnya menjalani pendidikan di Tabanan.

Jaya Negara menjelaskan, sejak menempati lokasi baru di Karangasem, sebagian siswa masih menjalani proses adaptasi terhadap lingkungan asrama. Beberapa peserta didik, terutama yang baru bergabung, masih kerap menangis karena rindu keluarga. Sebaliknya, tidak sedikit pula siswa yang justru merasa lebih nyaman tinggal di asrama karena telah terbiasa menjalani pola pendidikan berasrama.

Baca juga:  Belasan Siswa Dirawat Keracunan Susu Kedelai

“Masih proses penyesuaian. Memang ada satu-dua siswa, khususnya yang baru bergabung, menangis karena rindu rumah. Namun, ada juga yang betah di asrama karena sebelumnya sudah merasakan pendidikan berasrama selama setahun,” katanya.

Untuk menjaga kedekatan siswa dengan keluarga, pihak sekolah tetap memberikan kesempatan berkomunikasi melalui telepon pada waktu-waktu tertentu. Komunikasi dengan orang tua dijadwalkan setiap hari setelah makan malam, yakni pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Selain itu, sekolah juga memberikan izin cuti apabila terdapat keperluan yang bersifat mendesak. Durasi cuti dibatasi maksimal dua hari agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.

Baca juga:  Puncak Pujawali di Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir

“Ada jam tertentu untuk berkomunikasi dengan orang tua. Pengajuan cuti juga kami berikan untuk keperluan yang bersifat emergency dengan batas maksimal dua hari agar tidak mengganggu kegiatan belajar,” jelasnya.

Di sisi lain, Sekolah Rakyat juga masih memperkuat tenaga pendidik. Saat ini proses perekrutan guru masih berlangsung. Untuk menjamin kelancaran pembelajaran, kegiatan belajar mengajar sementara didukung 14 guru tamu yang bergabung dengan 11 guru yang telah lebih dahulu bertugas. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN