Psikolog Dinsos P3A Buleleng, Tasya Yumika (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Dua anak pria berinisial KD yang tewas dihakimi massa karena diduga maling ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, masih mengalami trauma psikologi yang cukup berat. Kehilangan sosok ayah secara mendadak membuat keduanya mengalami gangguan kecemasan hingga sulit tidur.

Untuk membantu proses pemulihan, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Buleleng memberikan pendampingan psikologi kepada istri korban beserta kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMA, Senin (27/7).

Psikolog Dinsos P3A Buleleng, Tasya Yumika, mengatakan pendampingan diawali dengan asesmen psikologis guna mengetahui kondisi emosional keluarga korban. Hasil asesmen menunjukkan kedua anak masih merasakan duka mendalam dan belum sepenuhnya mampu menerima kepergian sang ayah.

Baca juga:  Tewasnya Terduga Maling Ayam di Juwuk Legi, Lima Warga Jadi Tersangka

“Anak sedang menghadapi peristiwa kehilangan yang sangat berat. Dari hasil asesmen, masih terlihat adanya trauma psikis, gangguan kecemasan, serta gangguan tidur. Namun, mereka sudah mulai bisa bercerita sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara bertahap,” ujar Tasya saat ditemui di Desa Sidatapa.

Trauma yang dialami anak-anak korban tidak hanya dipicu oleh kehilangan ayah, tetapi juga karena mereka sempat melihat video pengeroyokan yang beredar di media sosial. Kondisi tersebut memperburuk tekanan psikologis yang mereka rasakan.

Menurut Tasya, metode pendampingan disesuaikan dengan usia masing-masing anak. Untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, psikolog menggunakan media menggambar sebagai sarana mengekspresikan emosi karena dinilai lebih efektif dibandingkan wawancara secara langsung.

Baca juga:  Dikeluhkan Warga, Bengkel Las di Mas Diberikan SP I

Selain membantu anak mengungkapkan perasaannya, pendampingan juga difokuskan untuk membangun kembali rasa aman setelah peristiwa tragis yang mereka alami. “Kami lebih fokus melindungi rasa aman anak melalui pendekatan psikologis dan konseling. Yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi emosional mereka berangsur membaik,” katanya.

Ia menjelaskan, proses pemulihan trauma membutuhkan waktu dan tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu kali pertemuan. Karena itu, Dinsos P3A akan terus melakukan pendampingan dengan menyesuaikan perkembangan kondisi psikologi anak serta lingkungan tempat mereka tumbuh.

Baca juga:  Kasus Tewasnya Terduga Maling Ayam Dihakimi Massa: Kaget Lihat Video Beredar, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

Trauma, lanjut Tasya, masih kerap muncul dalam aktivitas sehari-hari. Perasaan kehilangan kembali dirasakan saat bangun pada waktu subuh, bersiap berangkat ke sekolah, maupun ketika mengingat kebiasaan yang selama ini dilakukan bersama sang ayah.

“Perasaan kehilangan itu masih sering muncul dalam momen-momen tertentu. Karena itu, pendampingan akan terus dilakukan agar anak mampu kembali menjalani aktivitasnya secara normal,” jelasnya.

Sebelumnya, KD, warga Desa Sidatapa, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7) dini hari. Peristiwa tersebut dipicu dugaan KD kepergok mencuri ayam aduan milik warga. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN