Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore (22/7) ditutup melemah seiring aksi profit taking (ambil untung) pelaku pasar setelah penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.

IHSG ditutup melemah 5,54 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.334,48. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,09 poin atau 0,64 persen ke posisi 632,55.

“Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi oleh aksi profit taking setelah penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dilansir dari Kantor Berita Antara.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5.75 persen, sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta untuk mempertahankan inflasi berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027.

Baca juga:  Polri Ungkap Penjualan 'Pishing Tools', Korbannya Capai Puluhan Ribu Secara Global

“Keputusan itu mencerminkan keyakinan BI terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi yang tetap terkendali, sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Ratna.

Sementara itu, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN tercatat senilai Rp196,5 triliun pada semester I-2026, atau setara 0,76 persen dari PDB atau masih di bawah batas 3 persen dari PDB sesuai ketentuan Undang-Undang (UU).

Dari mancanegara, bursa saham global menguat ditopang oleh rebound saham-saham semikonduktor setelah sebelumnya masuk ke fase bear market akibat aksi profit taking (ambil untung) pada tema kecerdasan buatan (AI).

Baca juga:  Aksi 'Profit Taking' Investor Picu Melemahnya IHSG

Meski prospek jangka panjang AI dinilai masih kuat, pasar tetap mencermati tingginya belanja modal (capex) perusahaan-perusahaan teknologi besar serta potensi imbal hasil investasinya.

Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor teknologi yang naik sebesar 1,42 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor barang konsumen primer yang naik masing-masing sebesar 1,19 persen dan 0,59 persen.

Sedangkan lima sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik turun paling dalam minus 2,07 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing sebesar 1,07 persen dan 0,35 persen.

Baca juga:  Munas Kadin Disebut Tak Jadi Digelar di Bali, Dilaksanakan Akhir Juni di Kendari

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ZATA, SWID, MDIA, ALDO, dan MLPT. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KDTN, MMIX, TRON, SULI, dan KLIN.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.700.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 44,63 miliar lembar saham senilai Rp18,52 triliun. Sebanyak281 saham naik, 367 saham menurun, dan 317 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 0,37 persen ke 65.984,00, indeks Shanghai menguat 0,07 persen ke 3.867,03, indeks Hang Seng melemah 0,95 persen ke 24.892,66, indeks Kospi melemah 0,74 persen ke 6.797,70, dan indeks Strait Times menguat 1,07 persen ke 5.585,83. (kmb/balipost)

BAGIKAN