
SINGASANA, BALIPOST.com – Cuaca buruk disertai gelombang laut setinggi sekitar dua meter membuat nelayan di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan, menghentikan aktivitas melaut selama empat hari terakhir. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hilangnya penghasilan harian para nelayan yang biasanya mencapai Rp150 ribu hingga Rp250 ribu setiap kali melaut.
Salah seorang nelayan, Wayan Leder (65), Selasa (21/7), mengungkapkan dirinya bersama adiknya memilih tidak melaut demi keselamatan.
Menurutnya, gelombang tinggi membuat aktivitas penangkapan ikan maupun lobster sangat berisiko. Selama menunggu cuaca membaik, Leder mengisi waktu dengan memperbaiki dan membersihkan jaring agar siap digunakan kembali saat kondisi laut kembali bersahabat. “Kalau cuaca sudah bagus, kami bisa langsung melaut lagi,” ujarnya.
Saat ini hasil tangkapan nelayan didominasi lele laut yang dijual sekitar Rp15 ribu per kilogram kepada masyarakat sekitar. Dalam sekali melaut, hasil tangkapan rata-rata mencapai lima kilogram. Sementara untuk lobster, meski belum memasuki musim panen, nelayan masih sesekali memperoleh tiga hingga enam ekor berukuran sekitar 100 gram yang langsung dijual kepada pengepul.
Leder menuturkan musim lobster diperkirakan mulai berlangsung pada Agustus. Saat musim tiba, hasil tangkapan dapat meningkat signifikan dengan pendapatan mencapai sekitar Rp500 ribu dalam sekali melaut. Meski telah berusia lanjut, Leder mengaku rutin memantau prakiraan cuaca melalui telepon genggam berdasarkan informasi dari BMKG. Dari informasi yang diterimanya, kondisi cuaca diperkirakan mulai membaik pada Rabu (22/7), sehingga nelayan berharap dapat kembali melaut.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tidak bisa melaut, Leder juga bekerja sebagai buruh tani dengan menggarap lahan milik orang lain.
Menurutnya, sebagian besar nelayan di Pantai Yeh Gangga juga melakukan hal serupa atau pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan tambahan ketika cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. Pantauan di Pantai Yeh Gangga deretan jukung masih terparkir di bibir pantai. Seluruh nelayan memilih menunda aktivitas penangkapan ikan sambil menunggu gelombang kembali normal.(Puspawati/balipost)










