
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali menyoroti akar intelektual lahirnya pariwisata budaya di Pulau Dewata. Salah satu temuan penting yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali” adalah besarnya pengaruh kunjungan sastrawan peraih Nobel, Rabindranath Tagore, pada 1927 dalam mengangkat citra Bali ke panggung dunia.
Hal itu disampaikan pengamat budaya sekaligus ahli lontar, Sugi Lanus, saat menjadi narasumber dalam FGD yang digelar di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7).
Menurutnya, kunjungan Tagore ke Bali bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan misi intelektual yang membawa dampak besar terhadap perkembangan studi kebudayaan Bali di tingkat internasional.
Sugi Lanus mengungkapkan dirinya telah meneliti perjalanan Tagore selama lebih dari dua dekade, termasuk melakukan riset di India dan menelusuri arsip-arsip di Universitas Leiden serta Santiniketan. Dari berbagai dokumen tersebut, ia menemukan bahwa lawatan Tagore ke Bali merupakan bagian dari proyek besar “The Greater India” yang bertujuan menelusuri persebaran kebudayaan India di Asia.
“Fenomena tahun 1927 ini adalah fenomena intelektual, bukan fenomena pariwisata populer. Yang datang ke Bali adalah para ilmuwan, ahli bahasa Sanskerta, arkeolog, dan sejarawan. Dari sinilah Bali mulai dikenal sebagai laboratorium kebudayaan dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rombongan Tagore tiba di Bali pada 26 Agustus 1927 melalui Pelabuhan Buleleng dan didampingi sejumlah ilmuwan terkemuka seperti Dr. Goris, Samuel Oppenbach dari Java Institute, Suniti Kumar Chatterji, hingga pasangan Arnold Bake dan Beke Timmer yang mendokumentasikan seluruh perjalanan.
Selama hampir dua pekan, rombongan mengunjungi berbagai wilayah. Mulai dari Singaraja, Bangli, Karangasem, Besakih, Tampaksiring, Gianyar, Ubud hingga Munduk. Mereka mengamati kehidupan masyarakat Bali, menghadiri upacara ngaben, berdiskusi dengan raja-raja Bali, pendeta Hindu, serta mendokumentasikan arsitektur, seni, ritual, hingga lanskap budaya Bali.
Sugi Lanus mengatakan hasil perjalanan tersebut melahirkan puisi terkenal berjudul Sagarika yang ditulis Tagore setelah terpesona oleh Bali. Karena ditulis oleh seorang peraih Nobel Sastra, karya tersebut ikut memperkenalkan Bali kepada kalangan intelektual dunia.
Ia juga menilai kunjungan itu menjadi pemicu lahirnya berbagai penelitian tentang Bali oleh akademisi internasional. Salah satunya ialah kedatangan pakar Sanskerta asal Prancis, Sylvain Lévi, pada 1931 yang kemudian menerbitkan buku Sanskrit in Bali, disusul berbagai penelitian Jan Gonda dan ilmuwan lainnya mengenai kebudayaan Bali.
“Tagore menjadikan Bali sebagai pusat perhatian kalangan akademik dunia. Setelah itu muncul gelombang penelitian yang memperkuat posisi Bali sebagai pusat studi kebudayaan dan spiritualitas,” katanya.
Selain aspek intelektual, Sugi Lanus juga memaparkan bahwa arsip-arsip kolonial menunjukkan pemerintah Hindia Belanda telah menyiapkan infrastruktur pariwisata jauh sebelum Bali dibuka secara resmi bagi wisatawan internasional.
Ia menyebut Tourism Bureau telah berdiri di Batavia sejak 1908, sedangkan Bali Tourism Bureau resmi dibuka pada 1914. Pemerintah kolonial saat itu juga membangun jaringan jalan, pelabuhan, pesanggrahan sebagai tempat singgah tamu resmi, serta menyusun paket perjalanan wisata lengkap.
“Persiapan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur budaya. Masyarakat Bali dipersiapkan menjadi tuan rumah bagi tamu-tamu internasional,” ujarnya.
Di sisi lain, Sugi Lanus mengingatkan agar momentum 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali juga dijadikan kesempatan mengevaluasi dampak negatif perkembangan pariwisata selama lima dekade terakhir.
Ia menilai berbagai persoalan seperti alih fungsi lahan, investasi yang tidak terkendali, hingga lemahnya perlindungan kawasan budaya perlu menjadi perhatian serius dalam penyusunan arah pembangunan Bali ke depan.
Menurutnya, Bali selama ini lebih banyak mengkaji strategi promosi dan pengelolaan pariwisata, sementara kajian mengenai dampak negatif pariwisata masih sangat minim.
“Saya berharap ke depan ada pemetaan mengenai 50 tahun persoalan pariwisata Bali. Kita tidak hanya berbicara promosi dan manajemen, tetapi juga bagaimana memitigasi dampak negatif pariwisata agar identitas budaya Bali tetap terjaga,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)










