Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore (10/7) menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp18.065 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.128 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa (cadev) yang memadai.

“Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Harga Emas Pegadaian Kompak Menguat, Antam Tembus Rp2.964.000

Tercatat, posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Menurut dia, rupiah masih berpeluang menguat pada pekan depan jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut. Namun, penguatan rupiah diperkirakan takkan terlalu besar karena investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama inflasi inti (Core CPI), yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Baca juga:  Rupiah Terus Menguat

“Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pekan depan adalah rilis data Core CPI Amerika Serikat. Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah,” ungkap Amru.

Sebaliknya, lanjut dia, apabila inflasi lebih rendah dari ekspektasi, peluang pelemahan dolar AS akan semakin besar sehingga dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Pasar juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah karena dapat mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan minat investor terhadap aset safe haven. Begitu pula dengan arus modal asing dan langkah stabilisasi Bank Indonesia yang disebut akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Baca juga:  Harga Emas Naik Dua Hari Beruntun, UBS dan Galeri24 Kompak Menguat

Karena itu, tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.000-Rp18.128 per dolar AS dalam sepekan ke depan.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp18.069 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.090 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN