
DENPASAR, BALIPOST.com – Pergantian pelaku usaha pada stan kuliner dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi dimulai. Setelah menyelesaikan masa berjualan selama 15 hari sejak pembukaan PKB, pelaku UMKM kuliner kloter pertama kini digantikan oleh kloter kedua yang mulai menempati stan di kawasan Taman Budaya Bali (Art Center) Denpasar.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Try Arya Dhyana Kubontubuh, mengungkapkan total omzet penjualan yang dibukukan pelaku UMKM kuliner kloter pertama mencapai Rp2.507.173.000.
Menurutnya, pergantian hanya dilakukan terhadap pelaku usaha, sementara konsep penataan stan, jenis kuliner yang dijual, hingga sistem pengawasan tetap dipertahankan agar masyarakat tetap memperoleh pilihan makanan yang sama selama berlangsungnya PKB.
“Jumlahnya sama, hampir tidak ada perbedaan. Misalnya sebelumnya stan babi guling, penggantinya juga tetap babi guling, hanya pelaku usahanya yang berbeda. Posisi stan juga tetap kami atur,” ujar Try Arya, Rabu (1/7).
Ia menegaskan pengawasan terhadap seluruh pelaku UMKM kuliner tetap dilakukan secara rutin seperti pada kloter pertama, termasuk menjaga kualitas produk dan pelayanan kepada pengunjung.
“Yang berubah hanya pelaku UMKM. Pengawasan tetap sama, bahkan kami upayakan jenis kulinernya juga tetap sehingga pengunjung tidak kehilangan pilihan makanan favoritnya,” katanya.
Try Arya mengatakan pelaku UMKM kloter pertama mengaku puas mengikuti PKB tahun ini. Meski sempat mengalami penurunan omzet menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kondisi tersebut dapat diimbangi melalui keikutsertaan mereka pada kegiatan lain yang difasilitasi pemerintah.
“Kloter pertama sangat puas. Memang sempat terdampak dua hari raya sehingga omzet turun beberapa hari, tetapi kami ikutkan mereka pada event lain sehingga hasil akhirnya tetap baik. Total omzetnya bisa menembus Rp2,5 miliar lebih. Mudah-mudahan kloter kedua juga bisa mencapai angka yang sama,” ujarnya.
Ia menjelaskan penempatan stan kuliner tidak didasarkan pada asal kabupaten atau kota pelaku usaha, melainkan mempertimbangkan keberagaman kuliner khas Bali agar seluruh daerah tetap terwakili melalui jenis makanan yang disajikan.
“Kami tidak melihat asal daerah pedagang, tetapi memastikan setiap kloter menghadirkan makanan khas dari kabupaten dan kota di Bali. Yang kami wakili adalah jenis kulinernya,” jelasnya.
Hingga saat ini, diungkapkan bahwa babi guling masih menjadi menu dengan permintaan tertinggi selama PKB berlangsung. Selain itu, minuman tradisional seperti cendol serta jajanan khas Bali seperti laklak juga menjadi favorit pengunjung.
“Sementara yang paling banyak diminati masih babi guling, kemudian minuman tradisional seperti cendol dan makanan ringan tradisional seperti laklak,” katanya.
Untuk menjamin keamanan pangan, seluruh pelaku UMKM kuliner kloter kedua dijadwalkan menjalani pemeriksaan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Kamis (2/7) sore.
Try Arya menjelaskan proses pergantian pedagang dilakukan pada malam hari agar aktivitas penjualan tidak terganggu. Kloter pertama mulai berjualan sejak pembukaan PKB pada 13 Juni hingga 27 Juni 2026, sedangkan kloter kedua mulai beroperasi pada 28 Juni hingga 13 Juli 2026.
“Pergantian dilakukan malam hari. Setelah pedagang lama membongkar stan, pedagang baru langsung melakukan loading menjelang dini hari dan kami awasi secara langsung,” ujarnya.
Meski tidak memasang target khusus untuk omzet kloter kedua, pihaknya berharap total transaksi kuliner selama PKB 2026 minimal mampu menyamai capaian tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp5 miliar.
Ia optimis target tersebut dapat tercapai karena seluruh pelaku UMKM tidak dibebani biaya sewa stan sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar dibandingkan berjualan di lokasi biasa.
“Para pedagang sudah pasti lebih untung karena tidak dikenakan biaya sewa. Bahkan beberapa pedagang mengaku pendapatan berjualan di PKB jauh lebih tinggi dibandingkan di tempat biasa,” katanya.
Menurutnya, meski jumlah stan kuliner tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, kondisi tersebut justru membuat area makan lebih luas, nyaman, dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.
Terkait harga makanan, Try Arya memastikan seluruh pelaku UMKM telah menyerahkan daftar menu lengkap beserta harga sebagai salah satu persyaratan mengikuti PKB. Daftar tersebut dipasang di setiap stan sehingga pengunjung dapat mengetahui harga sebelum melakukan pembelian.
“Semua pedagang sudah menyerahkan daftar menu beserta harga dan kami pasang di setiap stan. Jadi masyarakat bisa melihat langsung sebelum membeli,” pungkasnya.
Sebagai informasi, sebanyak 72 pelaku UMKM kuliner terlibat dalam pengelolaan stan kuliner PKB XLVIII Tahun 2026. Masing-masing kloter memperoleh kesempatan berjualan selama dua pekan, dengan kloter pertama berlangsung pada 13–27 Juni 2026 dan kloter kedua pada 28 Juni–13 Juli 2026. (Ketut Winata/balipost)










