
DENPASAR, BALIPOST.com – Generasi muda Bali didorong untuk terus berinovasi dalam berkesenian tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas budaya Bali. Kreativitas dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan seni di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali berkolaborasi bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali yang digelar serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Kamis (25/6). Diskusi bertajuk Peran Kreativitas Generasi Muda dalam Inovasi Seni itu menghadirkan narasumber Dr. AA Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn., dan I Wayan Ary Wijaya, S.Sn., serta dipandu sastrawan I Made Adnyana Ole.
Dalam pemaparannya, Agung Rahma Putra menegaskan bahwa inovasi dan kreativitas harus tetap berlandaskan tradisi. Menurutnya, tradisi bukan hambatan bagi lahirnya karya-karya baru, melainkan fondasi yang memperkuat identitas sebuah karya seni.
Ia menceritakan pengalamannya saat mendirikan komunitas seni Pancer Langit pada 2012 sebagai ruang alternatif bagi generasi muda untuk bereksplorasi. Kala itu, berbagai karya inovatif yang dihadirkan bahkan sempat menuai kritik dari kalangan pencinta seni tradisi.
Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi ketika karya eksplorasi busana yang ditampilkan pada ajang PKB sekitar satu dekade lalu mendapat penilaian negatif dan disebut sebagai “karya sampah”. Namun, kritik tersebut justru menjadi refleksi penting dalam perjalanan kreatifnya.
“Dari pengalaman itu saya memahami bahwa berinovasi bukan berarti melepaskan diri dari tradisi. Tradisi adalah identitas yang harus dijaga, sedangkan inovasi adalah ruang kreativitas yang membuat seni tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Agung menjelaskan, dalam setiap proses penciptaan karya ia selalu berpegang pada konsep desa, kala, patra. Menurutnya, seorang seniman harus memahami ruang, waktu, dan konteks sosial yang melatarbelakangi sebuah karya agar tetap relevan dan memiliki makna bagi masyarakat.
Ia juga melihat generasi muda Bali saat ini bergerak dalam tiga kecenderungan berkesenian, yakni kelompok yang fokus menjaga tradisi secara murni, kelompok idealis yang lebih menitikberatkan eksplorasi gagasan baru, serta kelompok yang berkarya di ranah hiburan dan komersial.
Meski memiliki orientasi berbeda, ketiganya dinilai memiliki peran penting dalam ekosistem seni Bali dan tidak perlu dipertentangkan.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjaga abu tradisi, tetapi harus menjaga nyala apinya agar tetap hidup dan mampu berdialog dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan komposer sekaligus akademisi I Wayan Ary Wijaya. Ia menilai perkembangan teknologi digital justru membuka ruang yang lebih luas bagi lahirnya inovasi seni tanpa harus menghilangkan identitas budaya Bali.
Menurut Ary Wijaya, teknologi bukan ancaman bagi tradisi, melainkan alat yang membantu mempercepat proses kreatif, dokumentasi, hingga eksperimen artistik.
“Yang penting bukan sekadar berbeda, tetapi bagaimana seniman terus berkarya dan melahirkan pembaruan tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi jati dirinya,” katanya.
Berdasarkan pengalamannya mengajar sejak 1996 hingga 2020, Ary Wijaya melihat banyak inovasi lahir dari keinginan seniman keluar dari stagnasi. Meski tidak selalu langsung diterima masyarakat, berbagai pembaruan pada akhirnya dapat menjadi bagian dari perkembangan tradisi itu sendiri.
Ia mencontohkan perkembangan dalam dunia gamelan Bali yang terus melahirkan pola permainan dan transisi baru. Inovasi yang semula dianggap asing lambat laun diterima dan memperkaya khazanah seni tradisi Bali.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Bali, Nyoman Winata, mengapresiasi tingginya antusiasme generasi muda dalam berbagai kegiatan seni yang digelar selama PKB. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator positif bagi keberlanjutan seni dan budaya Bali di masa depan.
Ia mencontohkan meningkatnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional yang sebelumnya dianggap terbatas pada kalangan tertentu.
“Dulu siapa yang mau menarikan Barong kecuali pemangku. Sekarang anak-anak muda luar biasa antusias. Penari Barong tumbuh sangat masif. Begitu pula pemain gender, anak-anak sekarang hebat-hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa,” ujarnya.
Winata optimistis seni inovatif akan terus melahirkan generasi seniman muda yang mampu menjawab tantangan zaman. Namun, ia mengingatkan agar setiap inovasi tetap berakar kuat pada tradisi sebagai fondasi identitas budaya Bali.
Menurutnya, forum diskusi budaya yang mempertemukan seniman, akademisi, media, dan masyarakat seperti yang digelar Kawiya Bali dan PWI Bali perlu terus dilaksanakan dalam rangkaian PKB. Melalui ruang dialog tersebut, pelestarian budaya dan inovasi dapat berjalan beriringan sehingga seni Bali tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman. (Adv/balipost)










