
DENPASAR, BALIPOST.com – Kabupaten Karangasem menampilkan kemegahan warisan seni, tradisi, dan spiritualitas dalam ajang Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, di Depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Sabtu (13/6). Sebagai daerah di ujung timur Pulau Bali yang kaya akan seni budaya, Karangasem menghadirkan sajian yang memadukan keindahan visual, kekuatan musikal, serta gerak tari dalam sebuah harmoni bertajuk “Atma Prasangsa”.
Barisan pawai diawali dengan pembawa papan nama Kabupaten Karangasem sebagai simbol identitas daerah. Barisan ini tampil anggun mengenakan busana lelunakan dan didampingi sepasang jegeg-bagus dengan balutan Payas Agung khas Karangasem, busana yang secara tradisi identik digunakan kalangan puri dalam upacara pawiwahan maupun potong gigi. Kehadirannya merepresentasikan keindahan, keharmonisan, serta kewibawaan budaya Karangasem.
Nuansa sakral semakin terasa melalui barisan uparengga yang terdiri atas bandrangan, tedung, kober, dan lelonték. Berbagai perlengkapan upacara yang lazim digunakan dalam prosesi Melasti tersebut menjadi penguat nilai religius dan estetika dalam pementasan.
Memasuki ragam sajian seni, Karangasem menghadirkan Tari Kreasi Rerejangan Tiang Sanga, sebuah garapan yang terinspirasi dari beragam Tari Rejang adat yang berkembang di desa-desa adat Karangasem. Tarian ini menonjolkan kelembutan gerak, keanggunan, dan ketulusan sebagai wujud persembahan suci, dengan iringan Gamelan Selonding yang menjadi salah satu warisan musikal tua dan sakral di Bali.
Lantunan Gamelan Selonding dengan karakter bunyinya yang sederhana namun sarat makna menghadirkan suasana magis dan khidmat. Tabuhan gamelan ini menjadi simbol keteguhan, kesucian, serta kearifan masyarakat Karangasem dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Sajian berikutnya adalah Tari Tradisi Daratan Jempana, yang terinspirasi dari tradisi sakral masyarakat Desa Adat Padangkerta dalam rangkaian upacara Usaba Kapat. Garapan ini menampilkan Jempana sebagai simbol wahana suci dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Atraksi keris atau Madaratan yang menjadi bagian dari pertunjukan dimaknai sebagai simbol kekuatan spiritual, ketulusan bhakti, serta penyatuan diri dengan kekuatan niskala.
Kemegahan pawai semakin terasa dengan hadirnya Gamelan Tambur, perpaduan antara kendang besar, kempur, sungu dari kerang, tawa-tawa, serta instrumen lainnya yang dimainkan secara bergantian sehingga menghasilkan dentuman kuat dan menggelegar. Permainan musikal ini menjadi simbol kekuatan, semangat, dan energi masyarakat Karangasem.
Sebagai puncak penampilan, Karangasem menyajikan garapan tematik “Atma Prasangsa”, yang bermakna pemuliaan jiwa sebagai inti perjalanan spiritual manusia menuju kesucian dan keseimbangan kehidupan, baik secara sekala maupun niskala.
Garapan tersebut diperkuat dengan komposisi musikal “Adhi Merdangga”, sebuah sajian kolosal dengan jumlah penabuh besar dan barungan yang masif. Dentuman kendang yang berpadu dengan ceng-ceng, gong, dan berbagai instrumen lainnya menciptakan energi ritmis yang dinamis, menggambarkan keberanian, semangat kolektif, serta kekuatan jiwa masyarakat Karangasem.
Sebagai penutup, Baleganjur Adhi Merdangga menjadi klimaks yang menggugah dalam rangkaian Peed Aya, menegaskan karakter budaya Karangasem yang kokoh, berwibawa, dan agung.
Keseluruhan garapan seni ini dipersembahkan oleh Sanggar Seni Narada Nada sebagai wujud komitmen menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Karangasem di tengah dinamika zaman. (Ketut Winata/balipost)










