Tokoh agama Hindu, Ida Shri Bhagawan Yogananda. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tokoh agama Hindu, Ida Shri Bhagawan Yogananda, mengingatkan berbagai tantangan yang tengah dihadapi Bali. Mulai dari maraknya alih fungsi lahan, perubahan pola kehidupan masyarakat, hingga ancaman terhadap keberlanjutan identitas budaya dan spiritual Pulau Dewata.

Karena itu, ia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali dalam mengawal masa depan Bali.

Pernyataan tersebut disampaikan saat audiensi Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) dengan Pansus TRAP DPRD Bali di Wantilan DPRD Bali, Rabu (3/6).

Ida Shri Bhagawan Yogananda menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari gerakan kebangkitan Bali. Menurutnya, masyarakat saat ini dihadapkan pada pilihan penting, yakni membangkitkan atau justru membiarkan Bali mengalami kerusakan secara perlahan.

Baca juga:  Kendaraan Barang Dominasi Penyeberangan di Gilimanuk

“Hari ini inisiasinya adalah gerakan kebangkitan Bali. Pertanyaannya ke depan apakah kita membangkitkan Bali atau justru menghancurkannya. Tentu kita ingin membangkitkan Bali, tetapi tanpa disadari kita juga banyak merusaknya,” ujarnya.
Ia mengingatkan kembali konsep “Ajeg Bali” yang pernah menjadi semangat bersama masyarakat Bali. Menurutnya, Ajeg Bali memiliki tiga pilar utama yang harus dijaga secara seimbang.

Pertama adalah wilayah Bali sebagai “syarir” atau tubuh Bali. Kedua adalah tata laku masyarakat, aktivitas ekonomi, dan seluruh dinamika kehidupan masyarakat sebagai “prana” atau energi kehidupan Bali. Ketiga adalah agama Hindu sebagai “atma” atau jiwa Bali.

“Kalau ingin membangkitkan dan membangun Bali, maka tiga unsur itu harus dipertahankan,” tegasnya.

Namun, ia menilai kondisi yang terjadi saat ini justru menunjukkan arah sebaliknya. Alih kepemilikan dan alih fungsi lahan terus berlangsung, sementara ruang hidup masyarakat lokal semakin terdesak.

Baca juga:  Dewa Sugama Garap "Doa Ayah Bersamamu"

Menurutnya, tidak ada hari tanpa terjadinya alih kepemilikan maupun alih fungsi lahan yang berdampak pada berkurangnya ruang bagi masyarakat Bali untuk mempertahankan identitas dan keberlanjutan hidupnya.

Selain itu, ia juga menyoroti dominasi aktivitas ekonomi yang dinilai semakin banyak dikuasai oleh pendatang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak kehadiran pendatang maupun investasi di Bali.

“Kita tidak anti terhadap pendatang. Tetapi ketika ingin membangun Bali ke depan, kita harus memastikan Bali tetap memiliki masa depan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ida Shri Bhagawan Yogananda juga menyinggung kekhawatiran sejumlah pihak mengenai kemungkinan terjadinya pengikisan identitas Bali secara sistematis apabila berbagai persoalan yang terjadi saat ini terus dibiarkan.

Baca juga:  Bukit Abang Kembali Longsor, Bongkahan Batu Halangi Akses Jalan

Karena itu, ia berharap langkah-langkah yang dilakukan Pansus TRAP dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan Bali, baik dari sisi tata ruang, aset daerah, lingkungan, budaya maupun kehidupan spiritual masyarakatnya.

“Kami berharap Bali masih memiliki masa depan. Karena itu kami berdiri di depan sini untuk mendukung dan menguatkan para anggota Pansus yang sedang bekerja,” ujarnya.

Audiensi FOR HATI Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, serta organisasi kemasyarakatan yang menyampaikan aspirasi terkait tata ruang, investasi, dan arah pembangunan Bali ke depan. Dukungan terhadap kinerja Pansus TRAP menjadi salah satu aspirasi yang mengemuka dalam forum tersebut. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN