Umat Buddha melantunkan doa-doa dalam menyambut detik-detik Trisuci Waisak di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, Kamis (23/5/2025). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Umat Buddha akan merayakan Waisak pada Minggu (31/5). Waisak diperingati sebagai hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddhartha Gautama.

Di Bali, suasana Waisak terasa begitu khidmat karena didukung keberadaan berbagai wihara dan candi Buddha yang menawarkan ketenangan sekaligus nuansa spiritual yang mendalam.

Selain menjadi tempat ibadah, sejumlah wihara (vihara) di Bali juga dikenal memiliki arsitektur unik, lingkungan asri, hingga sejarah panjang perkembangan agama Buddha di Pulau Dewata.

Berikut enam vihara dan candi Buddha di Bali yang dapat menjadi pilihan untuk merayakan Waisak.

1. Vihara Satya Dharma, Benoa

Vihara Satya Dharma menjadi salah satu tempat ibadah umat Buddha yang cukup dikenal di Bali, terutama karena arsitektur Tionghoa yang mencolok dan penuh warna. Letaknya berada di kawasan Pelabuhan Benoa, dekat akses menuju Jalan Tol Bali Mandara.

Vihara Satya Dharma. (BP/Istimewa)

Saat Waisak berlangsung, vihara ini aktif menggelar berbagai kegiatan religius, mulai dari puja bakti, penyalaan pelita, hingga kegiatan bakti sosial. Suasana perayaan biasanya berlangsung meriah namun tetap khusyuk.

Selain menjadi tempat ibadah, vihara ini juga sering dikunjungi wisatawan yang tertarik melihat keindahan arsitekturnya.

2. Vihara Dharmayana, Kuta

Vihara Dharmayana merupakan salah satu vihara tertua di Bali yang juga dikenal dengan nama Vihara Leeng Gwan Kuta. Berlokasi di Jalan Blambangan, Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, vihara ini menjadi pusat kegiatan umat Buddha di kawasan selatan Bali.

Baca juga:  Hendak Lihat Sungai, Pelajar Terpeleset Terseret Arus
Vihara Dharmayana. (BP/Istimewa)

Bangunan vihara tampil khas dengan ornamen Tionghoa yang kental serta suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Kuta. Setiap perayaan Waisak, tempat ini biasanya dipadati umat yang mengikuti puja bakti, meditasi bersama, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

3. Vihara Buddha Guna, Nusa Dua

Berada di kawasan Puja Mandala Nusa Dua, Vihara Buddha Guna menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Bali. Kompleks Puja Mandala sendiri dikenal karena menghadirkan lima rumah ibadah berbeda dalam satu area.

Vihara Buddha Guna memiliki lingkungan yang bersih, tertata rapi, dan nyaman untuk beribadah maupun melakukan kontemplasi. Renovasi besar yang dilakukan pada 2012 membuat bangunan vihara tampak lebih megah dan artistik, lengkap dengan ornamen yang sarat pesan Dharma.

Vihara Buddha Guna. (BP/Istimewa)

Saat perayaan Waisak, umat biasanya mengikuti pembacaan paritta suci, meditasi, dan prosesi doa bersama. Lokasinya berada di Jalan Kuruksetra, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

4. Vihara Dharma Giri, Pupuan

Vihara Dharma Giri yang berada di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, juga menjadi salah satu tempat ibadah Buddha yang menawarkan suasana damai dan asri. Lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan udara yang sejuk serta panorama alam yang menenangkan.

Baca juga:  Rilis Paket Stimulus Ekonomi 8+4+5, Ini Rinciannya

Vihara ini dikenal memiliki lingkungan yang cocok untuk meditasi dan kegiatan spiritual karena jauh dari keramaian kota. Saat perayaan Waisak, umat biasanya menggelar puja bakti, doa bersama, serta pelepasan lampion sebagai simbol penerangan batin dan harapan akan kedamaian.

Patung Buddha tidur menjadi ikon di Vihara Dharma Giri, Pupuan, Tabanan. (BP/Istimewa)

Salah satu daya tarik utama Vihara Dharma Giri adalah keberadaan patung Buddha tidur berukuran besar yang cukup terkenal di Bali. Patung ini menggambarkan Sang Buddha dalam posisi berbaring atau Parinirvana yang melambangkan ketenangan dan pencapaian kebebasan sejati.

Kehadiran patung tersebut menjadi ikon vihara sekaligus daya tarik bagi umat maupun wisatawan yang datang berkunjung. Selain menjadi tempat ibadah, Vihara Dharma Giri juga kerap dikunjungi masyarakat yang ingin mencari ketenangan maupun menikmati suasana alam khas perdesaan Bali.

5. Brahma Vihara Arama

Brahma Vihara Arama dikenal sebagai wihara terbesar di Bali dan menjadi salah satu tujuan utama umat Buddha saat Waisak. Vihara ini berada di Banjar Dinas Tangeb, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dengan lokasi yang dikelilingi perbukitan hijau dan suasana yang sejuk.

Baca juga:  Desa Adat Tegalasah Kelod Bebaskan Urunan Piodalan

Pembangunan wihara dimulai pada November 1970 atas prakarsa Bhikkhu Giri Rakito Mahathera dan mulai digunakan untuk kegiatan ibadah pada Mei 1971. Nama Brahma Vihara Arama memiliki makna mendalam, yakni taman kedamaian dan tempat berkembangnya sifat-sifat luhur.

Puluhan Bhikkhu dilepas dari Brahma Vihara Arama, Buleleng pada Sabtu (9/5) dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace ke Borobudur. (BP/yud)

Salah satu daya tarik vihara ini adalah keberadaan miniatur Candi Borobudur yang menjadi ikon kawasan tersebut. Saat Waisak, berbagai kegiatan spiritual seperti puja bersama, meditasi, pelepasan lampion, dan pembelajaran dhamma rutin digelar di tempat ini.

6. Candi Buddha Kalibukbuk, Lovina

Candi Buddha Kalibukbuk menawarkan suasana yang lebih tenang dan sederhana dibandingkan vihara besar lainnya di Bali. Lokasinya berada di Jalan Desa Kalibukbuk–Anturan, dekat kawasan wisata Pantai Lovina, Buleleng.

Meski tidak terlalu populer, tempat ini justru cocok bagi umat yang ingin merayakan Waisak secara lebih hening dan pribadi melalui meditasi maupun perenungan spiritual.

Candi Buddha Kalibukbuk. (BP/Istimewa)

Di kawasan ini terdapat Stupa Kalibukbuk yang unik karena menjadi simbol perpaduan harmonis antara ajaran Buddha dan Siwa dalam tradisi Siwa-Buddha di Bali. Kehadiran stupa tersebut mencerminkan tingginya toleransi dan akulturasi budaya keagamaan di masyarakat setempat. Saat ini, area stupa masih digunakan sebagai tempat pemujaan baik oleh umat Hindu maupun Buddha. (Sumarthana/balipost)

BAGIKAN