
SINGASANA, BALIPOST.com – Suasana duka menyelimuti keluarga I Kade Agus Mahendra, warga Banjar Jambe Baleran, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Putranya, inisial IKSD (12), siswa kelas VI SD Negeri 2 Dajan Peken, dilaporkan terseret arus saat mandi di Pantai Yeh Gangga, Kamis (28/5) sore.
Peristiwa itu membuat keluarga korban terpukul. Ayah korban mengaku baru mengetahui kabar tersebut setelah anak keduanya melihat informasi orang tenggelam di media sosial (medsos) sekitar pukul 17.00 WITA.
Dalam video yang beredar, terlihat teman dekat korban RMF sehingga membuat dirinya dan sang istri mulai merasa cemas.
“Saya sempat cari ke rumah temannya tapi tidak ada. Ditelepon juga tidak nyambung. Sampai akhirnya Kelian Dinas menghubungi kalau anak saya terseret arus di Yeh Gangga,” ujarnya dengan suara lirih.
Sekitar pukul 18.30 WITA, ia datang ke lokasi kejadian untuk memastikan kabar tersebut. Awalnya dirinya masih ragu ketika melihat pakaian yang ditemukan di pinggir pantai karena pakaian serupa banyak dipakai anak-anak di banjarnya.
Namun setelah melihat sandal yang berada di lokasi, ia memastikan barang tersebut milik putranya. “Sempat lihat baju masih ragu, karena satu banjar punya baju itu. Lalu saya cari sandal dan positif benar itu sandal anak saya yang dipakai sehari-hari,” ungkapnya.
Menurut pengakuan ayahnya, Korban tidak bisa berenang. Ia juga mengaku tidak mengetahui anaknya pergi ke pantai.
Tak ada mimpi atau firasat apapun yang ia rasakan sebelumnya, hanya saja sebelum kejadian, keluarga sempat merasakan keanehan. Saat korban meminta akta kelahiran pada Senin lalu, dokumen tersebut justru ditemukan di map lama yang sudah lusuh, padahal sebelumnya seluruh akte kelahiran milik keluarga ditempatkan pada lokasi yang mudah ditemukan. Meski demikian, pihak keluarga tidak menaruh curiga apa pun.
Korban diketahui datang ke pantai bersama rekannya tanpa seizin orangtua. Saat itu, korban sempat mencari teman sepermainannya inisial RMF, sebelum akhirnya mandi di kawasan pantai sebelah barat Yeh Gangga.
Namun nahas, gelombang besar datang dan menyeret tubuh korban ke tengah laut. Rekan korban sempat berusaha menarik tangan korban, namun gagal akibat kuatnya arus dan besarnya ombak.
Saksi mata di lokasi, I Made Pasek Hartono, mengatakan dirinya melihat dua anak laki-laki sedang berenang sebelum ombak besar datang dan menyeret keduanya. “Salah satu anak berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi pantai, sedangkan korban tidak lagi terlihat dan diduga hanyut terbawa arus laut,” ujar saksi.
Di tengah pencarian, upaya niskala juga dilakukan pihak keluarga. Mulai dari sebelumnya matur piuning di Pura Batu Bolong dan upacara mapekeling di hari kedua pencarian tepat di lokasi kejadian.
Korban diketahui merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sebelum kejadian, korban masih sempat membantu ayahnya yang sedang sakit dengan membawakan air minum dan mengecas telepon genggam milik sang ayah.
“Tidak ada firasat sama sekali, kalau saya tahu dia mau ke pantai pasti tidak saya kasih karena dia ini tidak bisa berenang,” ucap Agus Mahendra.
Sementara itu, proses pencarian terus diperluas pada hari kedua, Jumat (29/5). Tim gabungan bersama masyarakat menyisir area pantai hingga radius dua kilometer dari titik awal korban hilang.
Komandan Tim (Dantim) Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Dudi Librana Marjaya, menjelaskan pencarian hari kedua dimulai sekitar pukul 07.00 WITA. Tim Basarnas menerjunkan satu rubber boat untuk melakukan penyisiran laut dari arah barat ke timur.
Selain itu, pencarian juga dibantu menggunakan drone dengan radius pantauan sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Sementara tim darat melakukan penyisiran ke arah barat sejauh dua kilometer dan ke arah timur sepanjang 1,5 kilometer. “Hingga pukul 12.00 WITA hasil pencarian masih nihil,” ujarnya.
Menurutnya, kendala utama di lapangan adalah tingginya ombak saat proses penurunan perahu karet, terutama pada pagi hari ketika kondisi air laut pasang. Meski demikian, operasi tetap bisa dilaksanakan dengan perhitungan dan skema pengamanan yang matang.
“Kalau sore nanti skema lebih dominan penyisiran menggunakan perahu karet dan penyisiran darat diperpanjang,” jelasnya.
Tim SAR juga mempelajari arah arus dan angin berdasarkan perkiraan BMKG untuk menentukan pola pencarian lanjutan. Dari hasil pengamatan sementara, arah angin cenderung bergerak ke barat.
Namun, tim masih mempelajari kemungkinan pergeseran korban mengikuti arus laut. “Kami melihat arah arus selama satu hari. Tidak menutup kemungkinan area pencarian diperluas lagi, baik dominan ke timur maupun ke barat,” tambahnya.
Proses pencarian melibatkan tim gabungan dari Basarnas, Kepolisian, BPBD, camat, aparat desa, hingga masyarakat dan krama adat setempat. Prajuru banjar juga aktif menyampaikan informasi melalui grup warga agar masyarakat ikut membantu penyisiran di darat.
Bahkan Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan diwakili oleh Kabid Pembinaan SD, I Made Sukanitera juga datang ke lokasi untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga korban. Atas kejadian tersebut pihak sekolah diminta terus mengingatkan orangtua agar lebih mengawasi aktivitas anak, terutama menjelang masa libur sekolah. “Jangan sampai anak-anak lepas dari pengawasan saat bermain di pantai, sungai, atau tempat berisiko lainnya,” tegasnya.
Secara akademis, korban dikenal sebagai siswa biasa seperti anak-anak lainnya dan aktif bergaul dengan teman sebayanya. (Puspawati/balipost)










