
MANGUPURA, BALIPOST.com – Upaya pelestarian lontar di Kabupaten Badung kini memasuki babak baru. Tidak hanya melalui perawatan fisik, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) Badung mulai mengakselerasi digitalisasi naskah kuno, dengan hampir 200 cakep lontar telah berhasil dialihmediakan hingga saat ini.
Langkah ini menjadi solusi konkret menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Digitalisasi dinilai mampu melindungi isi lontar dari kerusakan sekaligus membuka akses pembelajaran bagi generasi mendatang.
Kepala Bidang Pelestarian Bahan Perpustakaan Diskerpus Badung, Kadek Wiratnata, mengatakan bahwa lontar bukan sekadar benda pusaka, melainkan sumber ilmu pengetahuan yang harus dijaga bersama.
“Lontar maupun naskah kuno yang ada di Badung perlu dirawat dan dilestarikan agar tetap terpelihara dengan baik. Isi dari lontar tersebut juga penting diketahui oleh pemiliknya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jumlah lontar yang tersebar di Kabupaten Badung diperkirakan mencapai ribuan cakep. Sejak tahun 2022 hingga 2025, Diskerpus Badung bersama Penyuluh Bahasa Bali telah melakukan preservasi terhadap sekitar 1.500 cakep lontar.
Program digitalisasi sendiri mulai dijalankan pada tahun 2024 dan terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga kini, hampir 200 cakep lontar telah berhasil didigitalisasi, menjadi tonggak penting dalam upaya penyelamatan naskah kuno di Badung.
“Pemilik lontar sangat antusias untuk mendigitalisasikan lontar warisan mereka. Ini menjadi langkah penting agar isi lontar tetap aman dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang,” katanya.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi. Sebagian masyarakat masih menganggap lontar sebagai benda sakral yang tidak boleh disentuh, sehingga enggan dilakukan konservasi. “Melalui sosialisasi ini kami ingin mengubah mindset masyarakat terhadap lontar dan naskah kuno. Lontar bukan hanya warisan yang disakralkan, tetapi juga sumber pengetahuan yang harus dijaga bersama,” jelasnya.
Melalui kombinasi konservasi fisik dan digitalisasi, Wiratnata mengaku optimistis pelestarian lontar dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memastikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah masyarakat modern. (Parwata/balipost)










