Talkshow Rakerda Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Bali 2026 bertema “Membangun Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas dan Pengembangan Food Waste secara Berkesinambungan,” di Denpasar, Senin (25/5). (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI), Tashya Megananda Yukki menyoroti persoalan food waste atau limbah makanan yang dinilai semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Bahkan, Indonesia disebut menjadi negara penyumbang sampah terbesar di ASEAN dan masuk tiga besar dunia sehingga membutuhkan solusi konkret dan berkelanjutan.

“Indonesia ini sampah terbanyak di ASEAN dan nomor tiga terbanyak di dunia. Ini bukan sesuatu yang membanggakan buat kita. Jadi memang harus dicari jalan keluar bagaimana sampah-sampah terutama food waste ini mau dibawa ke mana dan dijadikan apa?,” ujarnya dalam talkshow Rakerda Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Bali 2026 bertema “Membangun Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas dan Pengembangan Food Waste secara Berkesinambungan,” di Denpasar, Senin (25/5).

Menurutnya, persoalan food waste semakin penting dibahas seiring meningkatnya aktivitas industri makanan dan adanya program makan bergizi gratis yang berpotensi menambah limbah makanan maupun bahan baku yang tidak terpakai.

Baca juga:  Revolusi 4.0, Industri Jasa Boga Diminta Gabungkan Bisnis Online-Offline

“Food waste ini mau dibawa ke mana? Ada makanan yang belum terpakai dan ada makanan yang sudah diolah tetapi tidak termakan. Ini harus dipikirkan bersama,” katanya.

Ia mengaku telah bertemu sejumlah perusahaan pengolah food waste. Namun biaya pengelolaan yang masih tinggi dinilai masih memberatkan pelaku usaha jasa boga.

“Saya sudah bertemu beberapa food waste company, tetapi solusi yang diberikan menurut saya masih terlalu tinggi harganya untuk para pengusaha makanan dan minuman. Harus ada solusi yang win-win, misalnya dengan sistem pembayaran bulanan yang lebih pasti,” ujarnya.

Tashya menambahkan APJI siap mendukung berbagai solusi pengelolaan food waste yang nantinya dapat disampaikan kepada pemerintah maupun ribuan pelaku usaha jasaboga di bawah naungan APJI di seluruh Indonesia.

Baca juga:  Medan yang Sulit Hambat Distribusi Material Pembangunan Seribu Tangga Bahagia

Sementara itu, Ketua APJI Bali, Inda Trimafo Yudha mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan budaya masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Menurutnya, konsep pengelolaan sampah mengacu pada tiga prinsip utama yakni reduce, reuse, dan recycle.

“Di luar negeri masyarakat sudah terbiasa memilah sampah karena ada budaya dan kebijakan yang mendukung,” ujarnya.

Direktur Utama PT Inpac Solution Indo, Agung Pablo menitikberatkan pengelolaan sampah pada konsep waste energy and education (We Education). Menurutnya, sampah harus dipelajari dan diubah menjadi energi baru yang bermanfaat.

Ia menjelaskan program Waste Energy and Education merupakan inisiatif edukasi dan sosialisasi pemilahan sampah dari sumbernya yang menyasar siswa sekolah dan masyarakat di Kabupaten Klungkung.

Baca juga:  Sampaikan Kondisi Perusda, Karyawan Datangi Dewan

“Yang dimaksud adalah bagaimana mengubah sampah menjadi energi baru. Saat ini prosesnya sudah berjalan kurang lebih dua bulan,” katanya.

Menurutnya, mesin pirolisis buatan vendor Inpac Andersons tersebut memiliki kemampuan mengolah hampir seluruh jenis sampah, baik organik maupun anorganik.

“Mesin yang kami rancang sebenarnya bisa mengolah segala jenis sampah, baik organik maupun anorganik. Mesin kami juga memiliki kemampuan untuk memisah dan memilah hasil output dari mesin itu sendiri. Itu yang membedakan dengan beberapa mesin pirolisis yang sudah ada di Bali. Mesin kami bisa mengolah hampir semua jenis sampah, kecuali kaca,” ujarnya.

Ia mengatakan proyek tersebut nantinya menjadi satu tempat pengolahan sampah terpadu di Klungkung yang menerima berbagai jenis sampah.

Pihaknya menargetkan pada akhir Juni 2026 fasilitas tersebut mampu mengolah hingga 168 ton sampah per hari. (Suardika/balipost)

BAGIKAN