
DENPASAR, BALIPOST.com – Kekhawatiran terhadap penyebaran African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika kembali mencuat di Bali setelah hasil uji sementara terhadap sampel ternak babi di Temesi, Gianyar menunjukkan adanya kasus positif. Dari enam sampel babi mati yang diperiksa, dua di antaranya dinyatakan positif ASF, sementara empat lainnya masih negatif dan dalam proses pemantauan lanjutan.
“Yang di Temesi dari enam sampel yang diambil, dua positif, sisanya negatif dan masih proses,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan (Distan) Pangan Provinsi Bali, Senin (25/5).
Menanggapi temuan tersebut, pemerintah daerah bergerak cepat memperkuat langkah pencegahan di tingkat peternak. Salah satu upaya yang dilakukan yakni membagikan cairan disinfektan untuk mendukung penerapan biosekuriti di kandang-kandang babi.
“Kalau peternak membutuhkan disinfektan untuk biosekuriti, hubungi dinas pertanian kabupaten atau provinsi. ASF belum ada vaksin,” katanya.
Distan Pangan Bali bersama dinas terkait di kabupaten/kota se-Bali juga telah menerjunkan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan lapangan dan pemantauan terhadap kondisi ternak di sejumlah wilayah.
Selain pemeriksaan, petugas turut memberikan edukasi kepada peternak mengenai pentingnya menjaga kebersihan kandang dan membatasi potensi penularan virus. Langkah tersebut dinilai penting mengingat ASF hingga kini belum memiliki vaksin komersial sehingga pengendalian hanya dapat dilakukan melalui penerapan biosekuriti ketat.
Peternak diimbau rutin membersihkan kandang, melakukan penyemprotan disinfektan, membatasi keluar masuk orang ke area peternakan, serta memastikan pakan ternak aman dan tidak berasal dari limbah makanan berisiko.
Tak hanya itu, ternak babi yang baru dibeli juga disarankan untuk dikarantina sementara sebelum dicampur dengan populasi lama guna memastikan kondisinya sehat dan bebas penyakit.
Meski kasus ASF kembali ditemukan, pihaknya meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Pasalnya, ASF saat ini telah menjadi penyakit endemis di Bali sehingga pengawasan dan kedisiplinan peternak menjadi faktor utama untuk menekan penyebarannya. (Ketut Winata/balipost)










