AA Ayu Priniti saat penyerahan bantuan hibah dari Pemkot Denpasar yang difasilitasinya di Banjar Pagan Kelod, Denpasar. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Warga di Banjar Pagan Kelod sudah puluhan tahun berharap bisa memiliki perangkat gong kebyar lengkap untuk mendukung pelaksanaan ritual keagamaan dan budaya di wilayahnya

Akhirnya harapan itu bisa dituntaskan pada Tumpek Bubuh, Sabtu (23/5) yang juga merupakan piodalan di Pelinggih Ratu Gede Penyarikan di banjar setempat. Perlengkapan gong kebyar ini akhirnya tuntas setelah cairnya bantuan hibah pemerintah Kota Denpasar sebesar Rp200 juta.

Menurut  Klian Banjar Adat Pagan Kelod yang diwakili Prajuru, I Wayan Adi Santika, piodalan kali ini merupakan petoyan nadi yang memakai upakara pulegembal serta caru panca sata.

“Kali ini kami melaksanakan piodalan jelih atau nadi karena memakai banten pulegembal dan caru panca sata yang dipuput oleh Ida Peranda,” ujar Adi dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga:  Visit to Gilimanuk Bay Increases on Long Holidays

Keistimewaan piodalan kali juga terkait dengan jangka waktu pelaksanaan caru atau tawur saat karya melaspas balai banjar yang digelar pada 2009. “Mengingat jangka waktu tersebut dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di kawasan balai banjar yang tidak luput dari cuntaka, kami melaksanakan pecaruan untuk menetralisir papa, lara, klesa di kawasan banjar,” jelasnya.

Selain itu juga terkait dengan pergantian pengurus atau prajuru banjar dari kepengurusan Ketut Wijaya dkk (periode 2024-2026) kepada prajuru baru yang diketuai Ketut Subrata. “Jadi sekalian kami melaksanakan upacara mejaya-jaya pengurus baru,” imbuhnya.

Tak kalah penting, lanjutnya, penyerahan bantuan hibah Kota Denpasar yang difasilitasi Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar, AA Ayu Priniti senilai Rp 200 juta.

Bantuan tersebut digunakan untuk perbaikan dan penambahan perangkat gamelan gong kebyar di Banjar Pagan Kelod. “Dana hibah tersebut kami gunakan untuk ngukir plawah gamelan termasuk penambahan alat yang masih kurang lengkap,” ujar Adi.

Baca juga:  Czech couple pray in cleansing ritual after Bali temple antics

“Sejak puluhan tahun kami bermimpi memiliki perangkat gamelan gong kebyar, baru kali ini terwujud. Kami ucapkan terima kasih kepada Bu Gek (AA Ayu Priniti, red) atas perjuangannya,” kata Adi.

Priniti mengutarakan hibah ini menuntaskan bantuan pengadaan Gong Kebyar Banjar Pagan Klod sebelumnya di 2024. Ia mengungkapkan dirinya bersama Made Muliawan Arya alias De Gadjah dan Anggota DPR RI I Dewa Agung Gede Widiarsana telah menyumbang seperangkat Gong Kebyar namun belum diukir dan diprada.

“Kini warga Banjar Pagan Kelod akhirnya memiliki perangkat gamelan gong kebyar guna mengiringi piodalan-piodalan besar di Pelinggih Ratu Gede Penyarikan,” ujar perempuan yang merupakan warga Banjar Pagan Kelod itu.

Baca juga:  Puff of Smoke Remains Visible at Temesi Landfill

Istri dari Yoseph Yulius “Yusdi” Diaz ini mengatakan keberhasilannya menjadi anggota legislatif tak lepas dari dukungan semeton Banjar Pagan Kelod. “Kini saatnya saya memperjuangkan aspirasi masyarakat tempat dimana saya hidup dan bermasyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, potensi seni masyarakat Banjar Pagan Kelod sangat besar. Beberapa seniman yang berkiprah di Pesta Kesenian Bali atau yang menjadi duta Kota Denpasar berasal dari banjar ini.

“Palegongan, Semara Pegulingan, dan drama gong ada di banjar ini,” ucapnya.

Sayangnya, potensi tersebut tidak didukung sarana atau alat yang memadai. Sebab, satu-satunya banjar adat wed atau asli Denpasar yang tidak punya gong kebyar, hanya Pagan Kelod. (kmb/balipost)

BAGIKAN