Putu Marmar Herayukti. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh Banjar Gemeh karya Marmar Herayukti dengan judul “Ki Ai Nir Nur” pada Nyepi 2025, dibuatkan film dokumenter. Film tersebut pun sudah pernah tayang di Jepang dan rencananya juga akan tayang di Indonesia.

Saat dihubungi pada Jumat (22/5), Marmar Herayukti membenarkan hal tersebut. Namun dia belum mau membahas lebih dalam terkait film dokumenter tersebut karena akan menjadi kejutan pada pers rilis nantinya sebelum film tersebut resmi tayang.

Meski demikian, terkait telah ditayangkannya film dokumenter tersebut di Jepang, tentu ia mengaku bangga. “Soalnya kalau dari apa yang tersirat di cerita Ki Ai Nir Nur ini kan menjadi isu yang sedang terjadi di seluruh dunia dan apa yang sedang dihadapai sebagai umat manusia,” katanya.

Baca juga:  Pawai Ogoh-Ogoh di Ibukota Diikuti Ratusan Umat Hindu Jabodetabek

Perjalanan film tersebut ke Jepang merupakan upaya untuk membawa cerita budaya. Film tersebut membawa apa yang disiratkan dalam cerita ogoh-ogoh Ki Ai Nir Nur.

“Karena kalau kita bawa ogoh-ogoh kan pastinya masyarakat Jepang tidak terlalu familiar. Hanya beberapa yang pajam tentang ogoh-ogoh. Tapi di sini kita lebih membawa konteks yang diceritakan oleh ogoh-ogoh Ki Ai Nir Nur ini,” kata Marmar.

Baca juga:  Jika Ricuh, Polisi Ancam Hentikan Pawai Ogoh-Ogoh

Menurutnya di tengah perkembangan teknologi, seperti AI saat ini, budaya harus tetap eksis. Dengan itu, dengan cara-cara seperti ini menjadi upaya menjaga budaya tersebut.

Di sisi lain, dia pun mengaku senang karya yang dia buat bisa difilmkan. Selama ini Marmar mengaku selalu mencatat dan menyimpan dalam dokumentasi setiap karya yang dibuatnya.

Namun cerita dalam karya ogoh-ogoh tidak bisa lama ada dalam ingatan masyarakat. Dengan difilmkannya karya ini, ia berharap masyarakat tidak lupa akan cerita yang tersirat dalam ogoh-ogoh.

Baca juga:  Tingkatkan Kerja Sama, Presiden Prabowo Melawat ke Jepang

“Suatu saat makna dan pesan dari cerita Ki Ai Nir Nur ini akan dibutuhkan. Makanya dibuatnya film ini agar kita tidak hanya terkesima pada estetika sama karyanya saat muncul di permukaan. Tapi kalau bikin film akan berbeda nantinya, ketika dia inget sesuatu dia akan bisa akses nantinya,” imbuh Marmar. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN