Ajung Santhika di World Book Day 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali mengusung tema "Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact." (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah krisis sampah yang semakin nyata di Bali, muncul sosok muda yang memilih turun langsung ke lapangan, bukan sekadar berbicara di media sosial. Namanya Ajung Santhika.

Sebagai changemaker di World Book Day 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali mengusung tema “Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact”, Ajung Santhika bercerita bersama sang ibu, ia membangun ACS Foundation Bali, Amara Cinta Semesta, sebuah gerakan pengelolaan sampah yang lahir dari keresahan, lalu tumbuh menjadi solusi nyata.

Bagi banyak orang, sampah adalah sesuatu yang harus dibuang. Namun bagi Ajung, sampah hanyalah sesuatu yang “tercampur”. Ketika dipilah, ia berubah menjadi bahan baku, sumber energi, pupuk, bahkan peluang ekonomi.

Filosofi itu kemudian melahirkan istilah unik yang melekat pada ACS: “Aku Cinta Sampah.” Method Cinta (Cara Inovasi Ngolah Sampah Tanpa Sisa).

Baca juga:  Pesta Pergantian Tahun Sisakan Sampah Kembang Api di Pantai Kuta

Menurut pria yang lama di Jakarta ini, bukan karena memuliakan sampah, melainkan karena percaya bahwa manusia harus mengubah cara pandangnya terhadap limbah. Dari sesuatu yang menjijikkan menjadi sesuatu yang bisa dikelola dengan bertanggung jawab.

Terinspirasi nilai Tri Hita Karana, Ajung dan ibunya mendirikan ACS dengan misi sederhana namun besar yaitu memastikan sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

Perjalanan itu tidak lahir dari kenyamanan. Ajung bercerita, awal mula ia ikut serta dunia pengolahan sampah justru karena pengalaman pahit. Ibunya pernah mengalami hal yang tidak baik dengan seseorang dalam sistem pengelolaan sampah, sehingga ia akhirnya memilih belajar sendiri lebih dalam tentang limbah dan cara mengolahnya. Dari sana, perspektifnya berubah total.

Baca juga:  Resmikan Gedung MDA Karangasem, Gubernur Koster Ajak Desa Adat Bekerja Progresif

“Sampah itu bukan sampah. Sampah adalah sesuatu yang tercampur. Kalau sudah terpilah, dia menjadi sisa makanan, plastik, kaca, aluminium, atau material lain yang punya solusi masing-masing,” ujarnya saat berbicara dalam World Book Day 2026 di Gedung Ksirarnawa, Rabu (13/5).

Cara berpikir itu kemudian diterjemahkan menjadi sistem kerja nyata di ACS Foundation. Di fasilitas pengolahan mereka, sampah tidak langsung dibuang. Semuanya dipilah secara manual sebelum masuk proses berikutnya.

Sampah organik dibedakan menjadi dua kategori: limbah kebun dan sisa makanan. Limbah kebun diolah menjadi kompos dan pupuk fermentasi, sementara sisa makanan dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pakan ternak.

Setiap hari, sekitar lima ton sisa makanan diproses dan disalurkan kembali untuk kebutuhan peternakan masyarakat. Sementara itu, sampah anorganik seperti kaca, logam, kertas, dan aluminium dipilah untuk didaur ulang menjadi material bernilai ekonomi.

Baca juga:  Ramadan, BRI Bagikan 3.000 Paket Sembako Gratis

Tidak berhenti di sana, ACS juga mengembangkan RDF atau Refuse Derived Fuel bahan bakar alternatif dari cacahan plastik padat. Mereka membangun sistem pengolahan sampah terpadu yang modern, terstruktur, dan berjalan mandiri. Ajung tidak bekerja sendiri. Bersama tim yang solid, ACS Foundation memiliki sistem pengangkutan sampah profesional, pola pemilahan yang tertata, hingga pengolahan tanpa sisa.

Mereka juga aktif berkolaborasi dalam gerakan Cleaning Paradise untuk membantu mengurangi persoalan sampah di Bali. Di usia muda, Ajung Santhika membuktikan kadang perubahan lahir dari keberanian mengubah cara pandang. Bahwa sampah bukan akhir dari sesuatu, melainkan awal dari tanggung jawab manusia terhadap semesta. (Suardika/balipost)

BAGIKAN