
MATARAM, BALIPOST.com – Rencana nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di depan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Mataram (Unram), Kamis malam (7/5), pukul 19.00 WITA dibatalkan paksa oleh pihak kampus.
Pembatalan ini menyebabkan banyak mahasiswa kecewa hingga terjadi adu mulut antara mahasiswa dan aparat keamanan kampus.
Film Pesta Babi garapan sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale itu menceritakan tentang kondisi masyarakat adat yang ada di Provinsi Papua Selatan yang sedang menghadapi situasi kompleks bagaimana militer masuk paksa di tanah adat Papua.
Dalam kebudayaan Papua, babi memiliki tempat sentral sebagai simbol kekayaan dan solidaritas. Dokumenter ini menggunakan metafora ini untuk menggambarkan bagaimana tanah yang menjadi sumber kehidupan (termasuk babi) dihancurkan oleh industrialisasi.
Wakil Rektor Bidang Kemanusiaan dan Alumni III Unram, Dr. Sujita menegaskan alasan di balik larangan pemutaran film soal perjuangan masyarakat Papua Adat tersebut. Menurutnya, pemutaran film itu akan mengganggu kondusifitas di lingkungan kampus.
“Mohon dimengerti bersama ini untuk menjaga kondusifitas sebaiknya film ini tidak di tonton, saya tidak mengutarakan alasannya. Intinya untuk menjaga kondusifitas demi persatuan dan kesatuan bangsa kita,” pintanya.
Sujita mengatakan penolakan pihak kampus terkait pemutaran film Pesta Babi karya Dandi Laksono ini berdasarkan perintah atasan, namun tidak disebutkan siapa yang di maksud tersebut.
“Tidak ada tekanan, hanya saja saya menjalankan perintah,” katanya.
Humas Unram, Dr. Khairul Umam menyatakan penyelenggara tidak pernah memberikan informasi detail tentang rencana kegiatan, termasuk jenis kegiatan dan berapa orang yang akan dilibatkan untuk antisipasi ketertiban. Pembubaran, sambungnya, dilakukan setelah jumlah massa yang berkumpul sangat banyak, termasuk yang bukan mahasiswa Unram.
“Pada saat yg sama, mahasiswa Unram di Fakultas Teknik juga melakukan nonton bareng film yang sama dan tidak ada teguran sama sekali. Pembubaran dilakukan murni karena alasan ketertiban dan bukan untuk membungkam berekspresi,” jelasnya.
Di lain sisi, perwakilan mahasiswa asal Papua, Kofa menilai penolakan pemutaran film ini oleh pihak Unram agar masyarakat Indonesia secara umum tidak mengetahui kondisi Papua saat ini.
“Mungkin pihak kampus (Unram) tidak mau masalah Papua diketahui oleh rakyat,” kata Kofa.
Meski dilarang pihak kampus namun para mahasiswa akan berusaha mencari tempat lain untuk pemutaran film tersebut, karena rencananya setelah pemutaran film akan dilanjutkan dengan diskusi. (kmb/suarantb)






