
GIANYAR, BALIPOST.com – Langkah progresif Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam menata kabel utilitas dengan sistem bawah tanah (underground) di kawasan Ubud menuai apresiasi positif dari kalangan legislatif.
Program hasil sinergi dengan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) ini dinilai sebagai solusi konkret dalam mempercantik wajah daerah pariwisata sekaligus mendukung aktivitas budaya masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Gianyar, Tjokorda Gde Asmara Putra Sukawati, Minggu (26/4) menegaskan bahwa penanaman kabel di bawah tanah adalah terobosan penting. Menurutnya, pemandangan kabel udara yang selama ini semrawut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga sering menjadi kendala teknis dalam pelaksanaan upacara adat.
“Ini bentuk nyata pemerintah daerah mewujudkan keinginan masyarakat. Selain memberikan kesan rapi dan indah, langkah ini meningkatkan kenyamanan di Ubud sebagai destinasi unggulan,” ujar Tjokorda Gde Asmara Putra Sukawati.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan tradisi. Selama ini, kabel udara yang melintang sering menghambat jalannya prosesi upacara besar, seperti ngaben yang menggunakan bade berukuran tinggi.
“Sekarang dengan kabel ditanam, tentu sangat membantu. Tidak lagi mengganggu jalannya upacara, dan masyarakat tidak terbebani biaya tambahan akibat harus menurunkan kabel saat prosesi lewat,” jelasnya.
Dari sisi kepariwisataan, penataan ini diyakini akan memperkuat citra Bali di mata dunia. Wisatawan kini dapat menikmati keindahan alam dan arsitektur Ubud tanpa gangguan visual kabel yang melintang di sepanjang jalan.
Sebelumnya, Pemkab Gianyar yang dipimpin oleh Sekda I Gusti Bagus Adi Widhya Utama telah melakukan groundbreaking proyek ini pada Senin (20/4). Proyek swadaya dari anggota APJATEL ini menjadi komitmen bersama untuk merapikan infrastruktur telekomunikasi di Gianyar.
Ketua APJATEL Bali, Dodi Simanjutak, menjelaskan bahwa untuk tahap awal, pengerjaan difokuskan pada tiga ruas jalan utama di Kelurahan Ubud, yakni Jalan Suweta, Jalan Sri Wedari, Jalan Tirta Tawar.
Nantinya, setelah kabel udara dipindahkan sepenuhnya ke bawah tanah, penggunaan tiang akan diefisiensikan secara signifikan. “Hanya akan ada satu tiang di setiap titik tertentu untuk menjaga kerapian kawasan,” ungkap Dodi.
Keberhasilan proyek di Ubud ini diharapkan menjadi pilot project yang dapat direplikasi di seluruh wilayah Bali guna menciptakan lingkungan yang tertata, nyaman, dan tetap selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal.(Wirnaya/balipost)










