
DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster memastikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dilakukan pada 8 Juli 2026.
“(Sebelumnya) rencana 30 Juni dilakukan groundbreaking, tapi saya meminta hari baik, dapatnya tanggal 8 Juli, maka peletakan batu pertama mulai pembangunannya adalah pada 8 Juli 2026,” kata Koster di Denpasar, Bali, Rabu (22/4) dikutip dari Kantor Berita Antara.
Koster kemudian menjelaskan bahwa selain penanganan sampah yang terus digencarkan mulai dari pengelolaan di sumber, TPS3R, dan TPST, juga sedang disiapkan PSEL.
“Astungkara, kemarin sudah tanda tangan PKS antara Gubernur Bali, Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, dan pihak Danantara untuk menyelenggarakan program ini,” ujarnya.
Pemprov Bali memastikan sudah tersedia lahan enam hektare di kawasan Pelindo, dan saat ini sedang proses izin amdal sebelum peletakan batu pertama dilakukan.
“Ini sudah menjadi keputusan dengan Danantara, lama pembangunannya adalah 1 tahun 3 bulan, jadi 15 bulan,” ucapnya.
Lebih detail, ia menjelaskan jika Juli 2026 pembangunan dimulai, maka awal November 2027 proyek tersebut rampung, dan ditambah sebulan finalisasi, maka PSEL sudah dapat dioperasikan oleh BUPP di bawah Danantara pada Desember 2027.
Kepada ratusan mahasiswa, Koster menyampaikan dalam penanganan sampah memerlukan waktu yang tidak sedikit, sehingga sambil menantikan PSEL hadir, pemerintah terutama Denpasar dan Badung terus bergerak dengan menyiapkan mesin di TPST.
TPST nantinya akan berhenti digunakan saat PSEL bekerja, sebab setiap harinya dibutuhkan sampah sebanyak 1.200 ton yang berasal 700 ton dari Denpasar dan 500 ton dari Badung.
Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam penganggaran penanganan sampah di sela menantikan teknologi yang mengolah sampah menjadi energi listrik itu.
“Adik-adik bisa bayangkan, berapa ratus miliar yang sudah kita keluarkan untuk pembelian alat di TPS3R dan TPST untuk mengolah sampah sebelum PSEL ini selesai, begitu PSEL selesai maka alat ini tidak akan berfungsi lagi karena semua sampah sudah harus diolah melalui PSEL,” ujarnya.
Untuk itu, sembari menantikan teknologi ini rampung, Pemprov Bali mengajak mahasiswa ikut dalam upaya mengurangi sampah dengan pemilahan atau penyelesaian sampah dari sumber.
Atas penjelasan gubernur, Ketua BEM PM Universitas Udayana I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa menyatakan mahasiswa siap ikut menyelesaikan persoalan sampah di sumbernya seperti pemilahan sampah di kampus.
Namun, para mahasiswa menuntut pemerintah serius dalam menyelesaikan masalah sampah hingga teknologi baru beroperasi, melalui adanya audit terbuka mengenai proses penanganan yang sudah dilakukan. (kmb/balipost)










