Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Ia pun mengungkap alasan penolakan itu, yakni kondisi fiskal Indonesia masih relatif kuat. Purbaya, Selasa (21/4) menjelaskan IMF dan Bank Dunia mempersiapkan dana senilai 20 miliar–30 miliar dolar AS untuk membantu negara yang membutuhkan dukungan di tengah ketidakpastian global, terutama akibat konflik Timur Tengah.

“Saya bilang sama dia (IMF dan Bank Dunia), sekarang saya belum butuh (pinjaman), karena saya sendiri punya persediaan hampir 25 miliar dolar AS (setara Rp428,77 triliun dengan kurs Rp17.150 per dolar AS),” kata Purbaya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Dukung Annual Meeting IMF WBG 2017, Kemenpar Siapkan 60 Paket Wisata

Tawaran pinjaman itu ia terima saat menghadiri rangkaian Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Grup Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting) pada 13-17 April di Washington DC, Amerika Serikat.

Purbaya menyebut telah menyampaikan apresiasi atas penawaran pinjaman oleh kedua lembaga internasional itu. Namun, Menkeu menjamin kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih memadai dan belum membutuhkan dukungan.

Baca juga:  Fasilitasi Peserta IMF Kunjungi Destinasi Luar Bali, Kemenhub Harap Ada Penerbangan Langsung

“Saya masih punya uang sebesar 25 miliar dolar AS juga, yang kami pegang untuk negara sendiri. Mereka (IMF dan Bank Dunia), 25 miliar dolar AS untuk beberapa negara. Jadi, kondisi keuangan kita masih aman,” tuturnya.

Sebelumnya, Purbaya menyatakan bahwa IMF memuji Indonesia sebagai salah satu titik cerah atau bright spot dalam perekonomian global.

IMF pun mengapresiasi kebijakan yang kredibel serta langkah-langkah lain yang dilakukan Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian.

Baca juga:  Menkeu Sri Mulyani Minta Klub Moge Ditjen Pajak Dibubarkan

Purbaya juga menjelaskan Pemerintah Indonesia mengambil manuver strategi dengan mengubah arah kebijakan fiskal sejak akhir tahun lalu, yang dampaknya sudah mulai terlihat pada perekonomian saat ini.

Perubahan strategi itu juga membuat Indonesia memiliki kemampuan merespons tekanan yang lebih baik, termasuk ketika harga minyak dunia melambung tinggi.

Di depan IMF dan Bank Dunia, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia mampu mencetak pertumbuhan 5,4-6 persen pada 2026 meski di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung. (kmb/balipost)

BAGIKAN