Forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Marya, Selasa (31/3). (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Evaluasi pelaksanaan Parade Ogoh-ogoh dalam Festival Singasana III mulai dilakukan evaluasi dan sejumlah pembenahan penting. Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Tabanan juga menampung berbagai masukan dari kalangan yowana guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan di tahun mendatang.

Masukan tersebut dihimpun dalam forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang digelar di Gedung Kesenian I Ketut Marya, Selasa (31/3), dengan melibatkan yowana se-Tabanan, perangkat desa, kecamatan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Disbud Tabanan, I Made Subagia, mengatakan evaluasi ini difokuskan pada penyempurnaan teknis pelaksanaan parade dan lomba ogoh-ogoh. “Banyak masukan konstruktif dari yowana untuk perbaikan ke depan agar festival semakin berkualitas,” ujarnya usai kegiatan.

Baca juga:  Terima Kiloan Ganja, Jaringan Sumut-Bali Ditangkap di Buleleng

Salah satu sorotan utama adalah kualitas dewan juri. Peserta FGD mengusulkan agar ke depan juri melibatkan kalangan yang benar-benar kompeten, seperti budayawan, pelukis, hingga pematung. Selain itu, muncul gagasan menghadirkan tokoh-tokoh asal Tabanan yang berkiprah di luar daerah untuk turut dilibatkan.

Tak hanya itu, sistem penilaian juga diusulkan lebih objektif melalui mekanisme zonasi. Tabanan dirancang dibagi menjadi lima zona, masing-masing terdiri dari dua kecamatan. Setiap zona akan mengirim tiga ogoh-ogoh terbaik ke tingkat kabupaten. Juri dari masing-masing zona pun diusulkan tidak menilai karya dari wilayahnya sendiri guna menjaga netralitas.

Baca juga:  Sepak Bola Pra-PON, Bali akan Habis-habisan Lawan NTT

“Skema ini diharapkan membuat penilaian lebih adil dan kompetitif,” jelas Subagia.

Dari sisi konsep, yowana juga mengusulkan penetapan tema sebagai acuan kreativitas. Dengan tema yang ditentukan, setiap sekaa teruna diharapkan mampu mengeksplorasi ide dan filosofi ogoh-ogoh secara lebih terarah.

Sementara itu, aspek kenyamanan penonton tak luput dari perhatian. Untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung, diusulkan adanya alternatif tontonan melalui layar videotron, termasuk di Lapangan Dangin Carik, sehingga masyarakat tidak harus memadati lokasi utama.

Selain itu, peserta juga mengusulkan penyediaan fasilitas peneduh oleh pemerintah agar seluruh peserta mendapat perlakuan yang sama tanpa harus menyiapkan secara mandiri.
Menariknya, yowana juga mendorong kemandirian pembiayaan dengan menggalang dana sejak awal. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga nilai sakral (taksu) ogoh-ogoh agar tidak tergerus praktik penggalangan dana instan.

Baca juga:  Kabar Duka Masih Dilaporkan!! Kasus COVID-19 Juga Bertambah di Atas 100 Orang

“Ini patut diapresiasi. Mereka sepakat menyiapkan dana lebih awal agar proses berkarya lebih maksimal,” imbuh Subagia.

Seluruh masukan tersebut akan kembali dibahas dalam FGD lanjutan pada akhir 2026 sebagai bahan penyempurnaan pelaksanaan Festival Singasana berikutnya, termasuk dalam perencanaan anggaran tahun 2027.
“Semua usulan akan dikaji lebih lanjut agar festival ke depan semakin baik,” pungkas Subagia.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN