
NEGARA, BALIPOST.com – Ratusan kendaraan logistik antre masuk ke Pelabuhan Gilimanuk, Selasa (31/3) siang. Selain memadati areal parkir dalam Pelabuhan Gilimanuk, ekor antrean mencapai luar pelabuhan hingga jalan utama menuju Pelabuhan Gilimanuk. Antrean ini diduga dipicu penerapan kebijakan TBB (tiba-bongkar-berangkat) sejumlah kapal yang bersandar di dermaga Gilimanuk untuk mempercepat antrean arus balik di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Kebijakan ini diterapkan untuk mempercepat antrean yang hingga H+9 lebaran, Selasa (31/3), masih terjadi di Pelabuhan Ketapang. Dalam rilisnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menempatkan percepatan pelayanan sebagai strategi utama untuk menjaga arus kendaraan tetap mengalir dan terkendali.
Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Yossianis Marciano menegaskan, kunci utama pengendalian kepadatan bukan semata-mata pada jumlah kapal, melainkan pada kecepatan layanan di setiap titik. “Fokus kami adalah memastikan proses berjalan cepat dan berkesinambungan. Melalui pola Tiba–bongkar–berangkat (TBB), kapal tidak berlama-lama di dermaga sehingga kendaraan dapat segera terlayani dan terus bergerak,” ujarnya.
Untuk mendukung percepatan tersebut, waktu bongkar muat kapal terus dioptimalkan dengan rata-rata durasi sekitar 35 menit per siklus layanan. Dengan durasi yang lebih singkat dan disiplin operasional yang terjaga, rotasi kapal dapat berlangsung lebih cepat sehingga kapasitas layanan meningkat secara signifikan.
Ia menambahkan, dalam kondisi puncak, antrean merupakan hal yang tidak terhindarkan. Namun, selama pergerakan tetap terjaga, waktu tunggu dapat ditekan secara signifikan. “Yang terpenting adalah flow tetap hidup. Antrean boleh terjadi, tetapi tidak boleh berhenti,” tegasnya.
ASDP bersama operator kapal lainnya mengoperasikan total 34 kapal dari biasa normalnya 28 kapal. 22 kapal diantaranya menerapkan pola TBB di dermaga 3, MB 4, LCM, dan Bulusan, serta didukung 4 kapal perbantuan guna mempercepat rotasi dan menjaga ritme layanan tetap stabil.
Sementara itu, puncak arus balik tercatat pada Minggu, 29 Maret 2026 (H+7), dengan total 56.365 penumpang dan 19.057 unit kendaraan menyeberang dari Jawa ke Bali. Komposisi didominasi sepeda motor sebanyak 12.458 unit dan mobil pribadi 4.995 unit.
Sejumlah buffer zone telah dioptimalkan, antara lain Grand Watudodol, Terminal Sri Tanjung, Bulusan, dan PT Pusri, sebagai kantong parkir sekaligus titik pengendalian arus. Koordinasi intensif bersama kepolisian, Dinas Perhubungan, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat untuk menjaga distribusi kendaraan tetap terkendali.
Sementara itu, dari update jumlah pengguna jasa yang masuk ke Bali, pada H+8 Lebaran 2026 tercatat mengalami peningkatan. Berdasarkan data Posko Pelabuhan Ketapang selama 24 jam pada 30 Maret 2026, total kendaraan yang menyeberang mencapai 17.608 unit.
Manajer Humas ASDP Ketapang, Bintang Felfian mengatakan, angka tersebut naik 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 17.252 unit. “Secara umum, terjadi peningkatan jumlah kendaraan yang masuk ke Bali, meskipun tidak terlalu signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Dari total tersebut, kendaraan roda dua mendominasi dengan jumlah 10.617 unit atau naik 7,5 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, kendaraan roda empat tercatat 4.808 unit atau mengalami penurunan 3,1 persen. Untuk kendaraan angkutan barang, jumlah truk yang menyeberang tercatat 1.611 unit atau turun cukup signifikan sebesar 15,4 persen. Sebaliknya, jumlah bus mengalami peningkatan menjadi 572 unit atau naik 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain kendaraan, jumlah penumpang yang masuk ke Bali juga tercatat mencapai 56.197 orang pada H+8, atau meningkat 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, sejak H-10 hingga H+8, total kendaraan dari Jawa ke Bali mencapai 171.921 unit atau naik tipis 0,5 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara jumlah penumpang tercatat 624.717 orang atau turun 2 persen. Bintang menambahkan, ASDP terus mengoptimalkan layanan penyeberangan guna memastikan kelancaran arus mudik dan balik, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk yang menjadi jalur utama penghubung Jawa dan Bali. (Surya Dharma/balipost)










