Suasana kunjungan wisatawan di DTW Tanah Lot, Desa Beraban, Kediri. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Rencana kenaikan tarif masuk di Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, yang semula dijadwalkan berlaku April ini, resmi ditunda. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan situasi global yang masih berdampak pada sektor pariwisata.

Kadiv Promosi dan Pengembangan DTW Tanah Lot, I Wayan Sanjaya Tampi, menegaskan penundaan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan. “Rencana penyesuaian harga tiket masuk dan tiket parkir kami tunda terlebih dahulu dengan melihat situasi global yang mempengaruhi sektor pariwisata,” ujarnya, Minggu (29/3).

Dengan penundaan tersebut, tarif tiket yang berlaku saat ini tetap dipertahankan. Untuk wisatawan domestik, tiket anak sebesar Rp 20.000 dan dewasa Rp 30.000. Sedangkan wisatawan mancanegara, tiket anak Rp 40.000 dan dewasa Rp 75.000. Tarif parkir kendaraan juga tidak berubah, yakni sepeda motor Rp 3.000, kendaraan roda empat Rp 5.000, serta kendaraan roda enam seperti bus dan truk sebesar Rp 10.000.

Baca juga:  Polres Klungkung Gelar Kenaikan Pangkat dan Pelepasan Purna Bakti

Untuk diketahui, di tengah ramainya kunjungan libur Idul Fitri, justru kondisi berbeda terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara khususnya dari kawasan Timur Tengah ke DTW Tanah Lot yang mengalami penurunan akibat situasi global yang bergejolak.

Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tentu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan perjalanan wisatawan dari kawasan tersebut. Isu keamanan, ketidakpastian perjalanan, hingga kondisi geopolitik juga berimbas pada minat bepergian ke luar negeri, termasuk ke Bali.

Baca juga:  Hadapi Tantangan Global, Ekonomi Daerah Perlu Diperkuat

Sebelumnya, Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, S.E., mengakui adanya penurunan tersebut, khususnya dari wisatawan Timur Tengah. Namun, kondisi itu dinilai tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap total kunjungan.

“Memang ada penurunan dari wisatawan Timur Tengah. Namun kontribusinya selama ini tidak dominan, sehingga tidak terlalu berdampak terhadap kunjungan secara keseluruhan,” jelasnya.

Pihak pengelola menilai, penundaan kenaikan tarif merupakan langkah strategis untuk menjaga daya tarik kunjungan di tengah dinamika global. Selain itu, upaya peningkatan kualitas layanan dan fasilitas tetap dilakukan guna mempertahankan minat wisatawan. ‘Ke depan, penyesuaian tarif tentu akan kembali kami kaji dengan melihat perkembangan situasi global serta kondisi pariwisata,” ucapnya

Baca juga:  Evakuasi Wisatawan dari Lombok, Maskapai Penerbangan Tambah "Flight"

Sementara itu, rencana kenaikan tarif di obyek wisata unggulan lainnya, seperti DTW Ulundanu Beratan, masih tetap berjalan sesuai rencana awal. Kenaikan tarif dijadwalkan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2026.

Humas DTW Ulundanu Beratan, Agus Teja Saputra menyebutkan kebijakan tersebut masih mengacu pada perencanaan sebelumnya, sembari tetap mencermati perkembangan situasi global. “Kami masih tetap dengan rencana awal, kenaikan tarif akan dimulai 1 Juli mendatang, sembari melihat situasi terbaru nantinya. Tentu kami berharap kondisi akan kembali normal, mengingat sektor pariwisata sejatinya sudah mulai menggeliat,” ujarnya.

Dari sisi kunjungan, DTW Ulundanu Beratan memang tidak terlalu terdampak penurunan wisatawan Timur Tengah. Selama ini, kunjungan wisatawan lebih didominasi oleh pasar India dan China.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN