Beberapa warga sedang membeli kebutuhan pangannya di pedagang Pasar Kuta II, Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Harga kebutuhan pokok di Kabupaten Badung mengalami fluktuasi pascahari Raya Nyepi dan Idulfitri. Perubahan harga ini dipicu sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga kelancaran suplai barang di pasaran.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (25/3), beberapa komoditas menunjukkan tren penurunan. Beras premium turun dari Rp16.000/kg menjadi Rp15.800/kg. Minyak goreng curah juga turun dari Rp20.000/liter menjadi Rp19.500/liter. Sementara itu, harga daging ayam ras menurun dari Rp45.000 menjadi Rp43.000/kg, dan telur ayam ras turun dari Rp30.400/kg menjadi Rp26.800/kg.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan harga. Minyak goreng kemasan naik dari Rp19.000/liter menjadi Rp20.000/liter. Harga cabai merah besar dan cabai merah keriting meningkat dari Rp45.000/kg menjadi Rp50.000/kg. Bawang putih juga naik dari Rp35.000/kg menjadi Rp40.000/kg.

Baca juga:  Jokowi Paparkan Kearifan Lokal Sistem Subak Bali di World Water Forum ke-10

Adapun beberapa komoditas lain mengalami penurunan harga, seperti cabai rawit dan cabai rawit hijau dari Rp45.000/kg menjadi Rp43.000/kg, serta bawang merah dari Rp45.000/kg menjadi Rp43.000/kg. Untuk daging babi tercatat berada di kisaran Rp75.000/kg dari sebelumnya Rp80.000/kg.

Kabag Ekonomi Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas harga. Upaya tersebut meliputi pemantauan pasar secara rutin, pengawasan distributor, hingga memperkuat kerja sama antardaerah.

“Kenaikan harga cabai dipicu melandainya pasokan akibat faktor cuaca yang meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pasokan cabai Bali berasal dari Karangasem, Bangli, Buleleng, serta Banyuwangi dan Jember,” ungkapnya.

Baca juga:  ADD Belum Cair, Sejumlah Desa di Bangli Mengeluh

Ia menambahkan, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan serta terbatasnya pasokan DOC dan distribusi ayam dari Jawa ke Bali.

“Kami rutin menyampaikan laporan harian kepada TPID Provinsi Bali, kepada Kementerian Perdagangan melalui SP2KP, serta kepada Inspektorat untuk diteruskan ke Itjen Kemendagri,” jelasnya.

Dalam High Level Meeting, Sagung Rosyawati menekankan pentingnya penguatan strategi 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sebagai langkah konkret, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Badung telah menjalin kerja sama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) DKI Jakarta. “Kerja sama ini mencakup pemanfaatan sarana produksi, kemitraan pengadaan gabah dan beras, hingga distribusi produk pangan,” ucapnya.

Baca juga:  NFA: Harga Minyak Goreng Kemasan Ikuti Harga Pasar

Ke depan, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka pendek menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti penguatan Operasi Pasar Murah dengan prinsip 3T, percepatan kerja sama antar daerah, serta optimalisasi komunikasi publik melalui media sosial TPID.

Untuk jangka panjang 2026–2027, fokus diarahkan pada penguatan peran Perumda, modernisasi sektor pertanian, digitalisasi pemantauan harga, serta penguatan cadangan pangan pemerintah.

“Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, memastikan pasokan aman, serta melindungi daya beli masyarakat Badung menjelang dua hari besar keagamaan tersebut,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN