
DENPASAR, BALIPOST.com – Wacana pembelajaran dalam jaringan (daring) mulai ramai dibicarakan untuk menghemat konsumsi BBM di dalam negeri dampak konflik Timur Tengah. Pembelajaran daring ini membuat orangtua (ortu) siswa khawatir akan efektivitasnya.
Kepala Disdikpora Denpasar, A.A. Gede Wiratama saat dikonfirmasi terkait wacana pembelajaran daring ini, mengaku masih menunggu arahan pusat. “Saat ini kami belum mendapat arahan. Itu baru wacana. Kami masih menunggu surat resminya dulu dari pusat,” katanya, Selasa (24/3).
Demikian terkait teknis pembelajaran daring ini juga diakuinya belum diketahui lebih lanjut. Terlebih dalam wacana yang diberitakan, ada pengaturan pembelajaran untuk praktikum dan pembejalaran yang mewajibkan tatap muka.
Meski demikian, pihaknya mengaku sudah siap apabila pembelajaran harus dilaksanakan daring. Hal ini berkaca pada pengalaman daring saat pandemi Covid-19 lalu dan pada beberapa kesempatan lainnya yang nantinya akan disesuaikan dengan kebijakan pusat. “Kami di Denpasar sudah biasa belajar daring. Karena ini bukan yang pertama kalau seandainya jadi,” ungkapnya.
Sementara terkait pembagian MBG jika pembelajaran daring dilaksanakan, tentunya akan dikoordinasikan dengan SPPG serta menyesuaikan aturan pusat.
Disisi lain, jika pembelajaran daring ini kembali dilaksanakan ada kekahwatiran muncul dari orang tua siswa. Salah satunya diakui oleh Apgandhi yang anaknya duduk di bangku TK. “Karena anak TK- kan lebih kepada aktivitasnya. Kalau daring nanti tentu kami orang tua yang akan kesulitan di rumah,” katanya.
Dia beranggapan pemberlajaran daring akan kurang efektif bagi siswa. Terlebih anak usia dini yang aktivitas motorik menjadi kegiatan utama dalam belajar.
Hal senada juga diungkapkan salah seorang orang tua siswa di kawasan Panjer, Made Sugiartha. Dia juga berpendapat jika pembelajaran daring akan kurang efektif. “Karena bahan ajar mungkin tidak bisa penuh diterima atau dimengerti murid. Kebanyakan disuruh baca, dikasi tugas sehingga tatap muka jauh lebih masuk,” ungkapnya.
Selain itu, belajar daring butuh pengawasan lebih dari orang tua. Sementara orang tua tidak bisa maksimal karena harus bekerja.
Meski demikian, jika kondisi memang sangat mendesak dan darurat, misalnya terjadi kelangkaan pasokan BBM, ia setuju. Hal ini mengingat sang anak bersekolah di SMPN 11 Denpasar yang berlokasi di Serangan.
“Saya mengantar jemput anak cukup jauh sampai ke sekolah negeri di Serangan. Jadi kalau pasokan BBM terganggu, tidak masalah sekolah daring.Tapi jika kondisi aman dan pasokan BBM lancar lebih baik belajar di sekolah,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)










