
DENPASAR, BALIPOST.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai memiliki dua sisi terhadap perekonomian nasional maupun daerah, khususnya Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Di satu sisi kondisi tersebut dapat memberikan peluang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, namun di sisi lain berpotensi memicu kenaikan biaya operasional dan inflasi.
Nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.970 per dolar AS pada Senin (16/3) pagi, melemah sekitar 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Bahkan pada 9 Maret 2026 rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS setelah sebelumnya pada 6 Maret berada di kisaran Rp16.925 per dolar.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional Denpasar, I.B. Raka Suardana di Denpasar menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar per barel.
“Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan,” ujarnya Senin (16/3).
Secara teori ekonomi makro, nilai tukar mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran mata uang asing. Ketika permintaan terhadap dolar meningkat sementara pasokannya terbatas di dalam negeri, maka nilai rupiah cenderung melemah.
Menurut Raka Suardana, pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar memiliki beberapa dampak ekonomi. Salah satunya adalah meningkatnya harga barang impor karena dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli dolar. Mengingat Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku industri, mesin, serta energi, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.
Fenomena tersebut dalam teori ekonomi dikenal sebagai imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri, baik bagi pemerintah maupun sektor swasta. Banyak kewajiban utang menggunakan mata uang dolar sehingga ketika rupiah melemah, jumlah rupiah yang harus dibayarkan menjadi lebih besar.
Meski demikian, pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak positif bagi sektor tertentu, terutama pariwisata. Dengan nilai tukar yang lebih lemah, biaya berwisata ke Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara.
“Bagi Bali, pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan daya tarik wisata karena biaya perjalanan menjadi lebih kompetitif bagi turis asing. Hal ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan serta penerimaan devisa daerah,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi udara dan logistik. Dampaknya, harga tiket pesawat, biaya distribusi barang, hingga biaya operasional hotel dan restoran dapat meningkat.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama, tekanan inflasi di Bali berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, stabilitas ekonomi nasional tetap menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya Bali yang sebagian besar ditopang oleh sektor pariwisata.
“Keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan penguatan sektor pariwisata menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Bali tetap terjaga secara berkelanjutan,” paparnya. (Suardika/balipost)










