
DENPASAR, BALIPOST.com – Lomba ogoh-ogoh dalam Festival Sanur Metangi telah mengumumkan pemenang. Ogoh-ogoh karya ST Satya Dharma, Banjar Pekandelan, Sanur Kaja meraih juara I dengan nilai 254.
Berdasarkan pengumuman pemenang pada akun Instagram Sanur Metangi, disebutkan bahwa juara II diraih oleh ST Brahmarya, Banjar Abiantimbul, dengan nilai 248 dan juara III diraih ST Brahmacarya, Banjar Puseh Kangin dengan nilai 241. Sementara, untuk harapan I diraih ST Dhananjaya, Banjar Dangin Peken, dengan nilai 240, harapan II diraih oleh ST Eka Dharma, Banjar Tanjung, dengan nilai 236, dan harapan III diraih ST Kanina Brata, Banjar Sindu Kelod, dengan nilai 235.
Menurut keterangan salah seorang dewan juri, I Wayan Gede Miasa, penilaian ogoh-ogoh dilakukan berdasarkan beberapa kriteria utama. Pertama, dari aspek sinopsis yang mencakup konsep, ide, dan gagasan karya memiliki bobot penilaian 20 persen. Aspek anatomi, karakter, serta ekspresi wajah ogoh-ogoh menjadi penilaian terbesar dengan bobot 40 persen. “Karena ini karya kriya, maka bentuk anatomi, karakter, dan ekspresi menjadi penilaian paling tinggi,” jelasnya.
Selain itu, komposisi karya juga dinilai dengan bobot 20 persen. Penilaian ini mencakup penempatan karakter serta tata visual agar terlihat menarik. Sementara, 20 persen lainnya berasal dari keserasian dan keharmonisan karya, termasuk busana, ornamen pendukung, serta pewarnaan.
Ia menilai, karya ogoh-ogoh yang ditampilkan pemuda Sanur tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Beberapa karya bahkan menampilkan unsur klasik yang diadaptasi dari pakem lama namun dikemas dengan inovasi baru.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gde Sidarta Putra mengatakan, perkembangan kreativitas ogoh-ogoh dari tahun ke tahun juga terus mengalami perubahan, baik dari segi bahan, pewarnaan, hingga bentuk. Hal tersebut menunjukkan semakin beragamnya kreativitas generasi muda dalam berkarya.
“Ya pasti nanti akan berubah. Kita sama kayak di Bali, banyak sekarang dari material berubah, banyak ya sekarang kita lihat. Dari pewarnaan, dari bentuk pun. Karena kan pasti tiap tahun itu ada tren-tren baru,” katanya.
Kegiatan ini, dikatakannya, menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda. Ke depan, festival ini diharapkan dapat berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar sekaligus memberi nilai tambah bagi sektor pariwisata Sanur. (Widiastuti/bisnisbali)










