
GIANYAR, BALIPOST.com – Di saat mayoritas desa adat di Bali menyemarakkan Pangerupukan dengan pawai ogoh-ogoh, Desa Adat Lantangidung, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati tetap teguh mempertahankan jati diri budayanya. Desa yang terdiri dari sekitar 80 kepala keluarga (KK) ini konsisten melaksanakan tradisi Metagel Api sebagai ritual utama menyambut hari raya Nyepi.
Tradisi Metagel Api merupakan permainan saling melempar sambuk (serabut kelapa) yang menyala. Ritual ini diyakini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai pengganti pawai ogoh-ogoh yang lazim ditemui di daerah lain.
Bendesa Adat Lantangidung, Drs. I Wayan Sujana, Jumat (13/3), mengungkapkan bahwa sepanjang ingatannya, desa tersebut tidak pernah membuat ogoh-ogoh. Keputusan ini didasarkan pada pamuwus atau pertimbangan mendalam dari para tetua desa terdahulu.
“Sejak dulu memang tidak ada ogoh-ogoh di sini. Kami hanya melanjutkan apa yang sudah diwariskan oleh para leluhur,” ujar Sujana saat dikonfirmasi pada Kamis (12/3).
Meskipun melibatkan api, permainan ini memiliki aturan ketat yang wajib dipatuhi. Seluruh peserta harus melakukan persembahyangan di Pura Buda Kliwon sebelum memulai tradisi. Ada pula larangan melempar serabut kelapa yang tidak menyala (sambuk bongol).
Aturan ini diberlakukan demi keamanan setelah adanya insiden cedera mata di masa lalu akibat lemparan sambuk tanpa api. Prosesi dimulai sekitar pukul 19.00 WITA setelah krama menyelesaikan prosesi ngerupuk di rumah masing-masing. Diiringi obor oleh pemuda-pemudi, jro mangku memimpin barisan sambil memercikkan tirta dan menaburkan nasi tawur mengelilingi wilayah desa.
Secara filosofis, Metagel Api bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif atau Bhuta Kala. Melalui bara api yang beterbangan, disimbolkan bahwa unsur negatif telah di-somya dan diantarkan kembali ke asalnya agar tidak mengganggu ketenteraman warga. Tahun ini, jadwal kegiatan di Desa Adat Lantangidung tergolong padat. Selain rangkaian Nyepi, pelaksanaan Tilem Kesanga bertepatan dengan piodalan pada Buda Cemeng Klawu di Pura Desa lan Puseh, pada Rabu (18/3).
Adapun agenda lainnya meliputi upacara melasti pada Minggu (15/3) tengah malam menuju segara. Pacaruan dan pranian, dilaksanakan pada Tilem Kesanga dengan menggunakan sarana buah lokal hasil pekarangan warga. Pada Catur Brata Panyepian, warga diimbau tertib melaksanakan pantangan Nyepi, di mana pengawasan ketat dilakukan oleh prajuru desa.
Nama “Lantangidung” sendiri memiliki kaitan erat dengan situs purbakala berupa arca Ganesha di Pura Buda Kliwon. Nama tersebut diyakini berasal dari kata “lantang irung” (hidung panjang), merujuk pada bentuk fisik arca tersebut. Hingga kini, pura tersebut tetap menjadi pusat spiritual bagi krama untuk memohon keselamatan dan kesembuhan. (Wirnaya/balipost)










