Suasana buka puasa bersama di Kampung Bugis, Desa Serangan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tradisi buka puasa bersama di Kampung Bugis, Desa Serangan, tidak hanya menjadi momentum mempererat silaturahmi selama Ramadan, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian warga setempat.

Pasalnya, puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal terlibat dalam penyediaan takjil bagi jemaah Masjid As-Syuhada.

Setiap hari selama bulan Ramadan, sekitar 75 paket takjil disiapkan untuk jemaah yang berbuka puasa di masjid bersejarah tersebut. Seluruh hidangan itu diproduksi oleh UMKM warga Kampung Bugis, sehingga kegiatan keagamaan sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ketua Takmir Majelis Masjid As-Syuhada Serangan, Muhammad Amir, mengatakan keterlibatan UMKM dalam penyediaan takjil memberikan dampak positif bagi warga. Bahkan, menurutnya, sejumlah warga yang sebelumnya belum memiliki usaha kini mulai mendaftarkan diri untuk bergabung dalam kegiatan UMKM.

Baca juga:  Mantan Ketua BEM Unud Bagus Padmanegara Raih Penghargaan Kemenpora

“Takjil yang disiapkan di sini berasal dari UMKM warga Kampung Bugis agar perekonomian berjalan baik. Dampaknya sangat positif, bahkan warga yang dulunya belum memiliki usaha kini mulai membuka usaha sendiri,” ujarnya, Selasa (10/3).

Ia mengatakan penyediaan takjil ini didukung Bali Turtle Island Development yang selama ini rutin membantu berbagai kegiatan keagamaan di masjid tersebut, tidak hanya saat Ramadan tetapi juga pada peringatan hari besar Islam lainnya seperti Iduladha.

Baca juga:  Targetkan Pertumbuhan Kredit Double Digit, Prospek Saham BBRI Diramal Cerah

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat Desa Serangan, sekaligus memberi nilai tambah bagi ekonomi lokal.

“Dukungan ini merupakan salah satu bentuk silaturahmi rutin kami dengan warga Desa Serangan. Kami senang bisa menjadi bagian dari tradisi di Masjid As-Syuhada, terutama karena kegiatan ini juga melibatkan UMKM lokal,” jelasnya.

Masjid As-Syuhada sendiri merupakan salah satu ikon sejarah Kampung Bugis di Pulau Serangan. Permukiman ini didirikan oleh nelayan Bugis-Makassar sejak abad ke-17 dan hingga kini dikenal sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Bali, di mana warga Muslim dan Hindu hidup berdampingan secara harmonis.

Baca juga:  Integrasikan 25 Juta Data, Holding UMi Jangkau Nasabah dengan Sentuhan Digitalisasi

Di masjid tersebut juga tersimpan Al-Qur’an kuno yang diperkirakan berusia sekitar 200 tahun. Manuskrip tulisan tangan yang lembarannya terbuat dari daun dan dilapisi kulit sapi itu diyakini dibawa dari Arab Saudi oleh tokoh Islam Bugis pada masa awal penyebaran Islam di wilayah tersebut. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN