Sejumlah anak belajar menabuh kendang tunggal. (BP/dar)

GIANYAR, BALIPOST. com – Suara gemuruh dari kendang terdengar dari dalam gedung balai Budaya, Gianyar, Selasa (10/3).

Sebanyak 67 anak-anak dengan berpakaian adat madya, berasal dari sekolah dasar, SMP dan SMA di Gianyar mengikuti workshop tabuh makendang tunggal, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, bekerja sama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Kecamatan Gianyar.

Acara ini sebagai bagian dari pelestarian seni dan budaya, yang dilakukan sejak dini, dan pencarian bibit, dalam seni tabuh atau kerawitan, khususnya makendang tunggal.

Baca juga:  Gedong Kertya Makin Banyak Dikunjungi, Penerjemahan Lontar Digenjot

Workshop Makendang Tunggal merupakan kegiatan pelatihan seni tabuh Bali yang difokuskan pada teknik memainkan kendang secara tunggal (solo). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, pemahaman, serta rasa musikal para peserta dalam memainkan kendang sebagai salah satu instrumen utama dalam gamelan

Panitia workshop Makendang Tunggal, MKB Kecamatan Gianyar, I Gusti Ngurah Juniarta, mengatakan bahwa workshop diselenggarakan selama tiga hari, 9 – 11 Maret. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar teknik makendang, mulai dari posisi duduk, teknik pukulan dasar, pola-pola kendang, hingga pengembangan improvisasi dalam permainan kendang tunggal, dari narasumber yang berpengalaman di bidang seni karawitan, seperti I Ketut Cater, Wayan sudiasa, dan Pande Mardiana.

Baca juga:  Koster-Ace Gelar Simakrama di Gianyar, Ini yang Dibahas

Teknik dasar yang diberikan selama tiga hari adalah teknik makendang bebarongan.

Selain penyampaian materi teori, kegiatan workshop juga diisi dengan sesi praktik langsung. Para peserta diberikan kesempatan untuk mencoba beberapa pola tabuhan kendang bebarongan, mempelajari dinamika permainan, serta berlatih mengatur tempo dan rasa dalam memainkan kendang tunggal.

Melalui kegiatan workshop ini diharapkan para peserta tidak hanya mampu meningkatkan keterampilan teknis dalam makendang tunggal, tetapi juga mampu melestarikan dan mengembangkan seni karawitan Bali sebagai bagian dari warisan budaya yang sangat bernilai. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah pembelajaran, kreativitas, serta regenerasi seniman muda di bidang seni tabuh Bali. (Agung Dharmada/balipost)

Baca juga:  Wabup Mahasyastra Serahkan Bantuan Sapi dan Kucit di Dua Desa Ini
BAGIKAN