
DENPASAR, BALIPOST.com – Kreativitas seni ogoh-ogoh dalam Kasanga Festival ke-4 tahun 2026 kembali menampilkan karya sarat makna spiritual. Salah satunya datang dari ST. Swadharmita Banjar Ceramcam, Kesiman, yang menghadirkan ogoh-ogoh berjudul “Ngogo Napak Sithi (Jala Sidhi Sweta Sang Atma Manusa)”.
Karya ini mengangkat konsep Manusa Yadnya, khususnya prosesi Ngogo Tuwun Tanah atau Napak Sithi, yaitu momen sakral ketika seorang bayi pertama kali menapakkan kaki di bumi. Dalam ajaran yang tertuang dalam Lontar Manusa Yadnya, prosesi ini melambangkan awal perjalanan hidup manusia di alam sekala.
Tokoh utama dalam ogoh-ogoh ini adalah sosok bayi Ngogo, yang menjadi simbol Sang Atma Manusa, roh manusia yang baru meneguhkan keberadaannya dalam tubuh. Bayi tersebut digambarkan berada dalam fase liminal atau masa peralihan antara alam niskala dan sekala. Posisi tubuhnya yang belum sepenuhnya menyentuh bumi menggambarkan proses harmonisasi atma dengan unsur Panca Maha Bhuta.
Di sekeliling tokoh bayi tersebut hadir Catur Sanak, empat saudara spiritual manusia yang dijelaskan dalam Lontar Tattwa Kala. Keempat unsur itu meliputi: Anggapati, melambangkan unsur Teja (api), Mrajapati, melambangkan unsur Pertiwi (tanah), Banaspati, melambangkan unsur Bayu (angin) dan Banaspati Raja, melambangkan unsur Apah (air).
Ketua ST. Swadharmita, Komang Dwi Prayana Putra, menjelaskan bahwa dalam visual ogoh-ogoh, Catur Sanak ditampilkan dengan bentuk besar, dinamis, dan ekspresif. Hal ini melambangkan energi Bhuta Kala, yakni kekuatan alam yang liar dan belum terselaraskan.
“Bhuta dalam karya ini bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan potensi dasar kehidupan yang perlu ditata agar tidak berkembang menjadi Adharma dalam diri manusia,” jelas Dwi saat ditemui di kawasan Catur Muka Denpasar, Jumat (6/3).
Di atas komposisi utama tersebut juga ditampilkan manifestasi Hari-Hara, yakni penyatuan kekuatan Siwa dan Wisnu dalam satu kesadaran kosmis. Dalam ikonografi Tattwa Nusantara, Siwa digambarkan membawa Ubes sebagai simbol pamralina atau pelebur kekacauan, sementara Wisnu membawa Cakra sebagai simbol pemelihara keseimbangan kosmos.
Kesatuan Siwa dan Wisnu ini melambangkan siklus kosmis yang utuh: penciptaan (utpatti), pemeliharaan (sthiti), dan peleburan (pralina).
Sejalan dengan tema festival tahun ini, “Jala Sidhi Shuvita” yang memuliakan air, karya “Ngogo Napak Sithi” juga memaknai air secara filosofis. Air tidak hanya dipandang sebagai unsur fisik, tetapi juga sebagai media kosmis untuk penyucian serta penjaga harmoni kehidupan.
Dalam prosesi Napak Sithi, air digunakan bukan hanya untuk membersihkan kaki bayi, tetapi juga melambangkan peneguhan reinkarnasi atma, penetralisir energi bhuta, sekaligus pembuka jalan kehidupan menuju Dharma.
“Ogoh-ogoh ini tidak menggambarkan kejahatan, tetapi proses penyelarasan. Bhuta tidak dimusnahkan, melainkan dinetralisir. Manusia tidak sekadar lahir, tetapi dituntun menuju kesadaran. Air pun bukan hanya cairan, tetapi jalan menuju kesempurnaan hidup,” ujar Dwi.
Pembuatan ogoh-ogoh ini dimulai sejak awal Desember 2025 hingga 20 Februari 2026, dengan waktu pengerjaan sekitar dua setengah bulan. Prosesnya melibatkan kreativitas dan kerja sama para pemuda ST. Swadharmita.
Dari sisi pembiayaan, pembuatan ogoh-ogoh “Ngogo Napak Sithi” diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp80 juta hingga Rp90 juta. Karya ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana edukasi spiritual tentang makna kehidupan dalam tradisi Bali. (Suka Adnyana/balipost)










