Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada menunjukkan pangan di Bali aman menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026. (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idulfitri 1447 Hijriah tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali memastikan ketersediaan bahan pangan pokok di seluruh kabupaten/kota masih dalam kondisi aman dan mencukupi.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan bahwa hasil pemantauan stok dan harga di pasar tradisional, distributor, hingga pelaku usaha pangan menunjukkan kondisi pasokan masih terkendali.

Menurutnya, sejumlah komoditas utama seperti beras, gula, minyak goreng, telur hingga komoditas hortikultura masih tersedia cukup dan belum menunjukkan tanda kelangkaan.

“Secara umum neraca pangan daerah menunjukkan surplus untuk komoditas utama. Stok beras dalam kondisi aman. Dari pantauan harga pada minggu kedua Maret 2026, gabah kering giling (GKG) berada di kisaran Rp8.060 per kilogram di tingkat penggilingan,” ujarnya, Kamis (5/3).

Baca juga:  Hotel Diizinkan Buat Paket Nyepi, Ini Syaratnya

Meski demikian, terdapat dinamika harga pada komoditas cabai yang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini dipicu faktor cuaca ekstrem yang berdampak pada produksi di sejumlah sentra pertanian.

Curah hujan tinggi menyebabkan produktivitas cabai menurun serta mengganggu distribusi dari daerah pemasok luar Bali. Kondisi ini mendorong kenaikan harga di tingkat pasar. “Namun kenaikan harga cabai masih dalam batas wajar dan terus kami pantau,” jelasnya.

Sementara itu, untuk komoditas bahan pokok penting lainnya seperti daging babi dan daging sapi, harga masih relatif stabil meski permintaan mulai meningkat menjelang hari raya.

Baca juga:  Lolos PON, Bola Tangan Minta Tambah Skuad

Berdasarkan pemantauan pada minggu kedua Maret 2026, harga babi hidup di tingkat produsen tercatat sekitar Rp37.833 per kilogram, sedangkan sapi hidup berada di kisaran Rp47.056 per kilogram.

Monitoring harga dan ketersediaan pangan dilakukan secara terpadu oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bersama Satgas Saber Ditreskrimsus Polda Bali, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, serta Perum Bulog.

Pemantauan dilakukan di sejumlah wilayah seperti Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan untuk memastikan tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan.

Sunada menambahkan, stabilitas harga ini juga didukung oleh ketersediaan ternak lokal yang memadai serta distribusi yang berjalan lancar. Koordinasi lintas sektor bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan mencegah praktik spekulasi pasar.

Baca juga:  Minimalisasi Kebakaran, Masyarakat Diimbau Tak Bakar Sampah Sembarangan

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif seperti operasi pasar, pemantauan harga harian, serta fasilitasi distribusi antarwilayah jika terjadi disparitas harga yang mencolok.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap berbelanja secara bijak dan tidak melakukan panic buying, karena stok pangan strategis dipastikan tersedia hingga setelah perayaan hari raya.

Dengan kesiapan stok dan pengendalian distribusi yang optimal, Pemprov Bali optimistis stabilitas harga pangan serta ketahanan pangan daerah dapat terjaga selama momentum Nyepi dan Idul Fitri 2026. (Winata/balipost)

BAGIKAN